Selasa, 30 Maret 2021

Kritik?

 Griven H. Putera

Kritik?

Kritik merupakan proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Kritik berasal dari bahasa Yunani kritikos yang berarti "dapat didiskusikan". Kata kritikos diambil dari kata krenein yang berarti memisahkan, mengamati, menimbang, dan membandingkan. Demikian yang saya kutip dari Wikipedia.

Secara umum, orang membagi kritik dua macam, yaitu konstruktif (yang membangun) dan destruktif (yang merusak). Bagi yang dikritik, awalnya baik bersifat konstruktif maupun desruktif, keduanya sama-sama terdengar menyakitkan. Pada dasarnya semua manusia ingin dipuji bukan dikritik. Untuk itu setiap kritik selalu menyakitkan pada awalnya.

Namun pengetahuan dan pengalaman hidup membuat orang mengerti bahwa kritik amat diperlukan, amat dibutuhkan, baik untuk diri pribadi maupun bagi suatu kelompok, baik untuk masyarakat biasa maupun penguasa karena pada kritik akan menghasilkan sesuatu amat baik yang menuju kesempurnaan.

Manusia yang anti kritik akan hidup stagnan. Ia merasa sudah berjalan jauh tapi ternyata tak lebih dari si pandir yang jongkok, melihat ladang dari bawah selangkangannya karena yang ia lingat adalah langit yang membentang di atas sana. Ia melihat langit setengah menelentang. Ia hanya merasa besar dan benar sendiri sehingga yang diperolehnya hanya kesenangan dan kepuasan semu. Ia lupa bahwa ukuran panjang dan jauhnya perjalanan, luas atau sempitnya hasil yang ia kerjakan diukur dari meteran. Meteran merupakan salah satu alat ukur. Dan itu merupakan sesuatu yang berada di luar dirinya.

Pandangan orang lain terhadap diri kita merupakan meteran. Yang mengukur baju kita adalah tukang jahit dengan meterannya. Jangan ukur diri kita dengan ukuran-ukuran kita. Kita boleh berharap baju kita sesuai dengan yang kita inginkan akan tetapi yang mengukur dan melihat sisi indah dan selesanya pakaian dikenakan tetap melibatkan orang lain. Dan akhirnya, orang lain juga yang menilainya. Kita tak dapat menutup mulut orang seperti menutup mulut tempayan. Mulut manusia dinamis karena hidup, bergerak, sementara mulut tempayan tetap tertutup akalu tidak dibuka oleh orang lain.    

Kritik seumpama obat bagi pasien. Ia pahit tapi dapat menyembuhkan jika sabar menelannya. Ia bagaikan cambuk bagi kuda untuk kencang berpacu dalam berlari. Manusia anti kritik sebenarnya merupakan insan yang menyalahi kodratnya sebagai tempat salah dan lupa karena pada dirinya himpun pepat dhaif dan papa.

Akan tetapi bagi seorang kritikus, tentunya menyadarai bahwa kritik punya etika dan aturannya sendiri. Buat siapa lontaran kritik dialamatkan. Pada masa apa dan di tempat mana kritik diucapkan. Untuk apa dan berdasarkan apa kritik dinyatakan. Kalau semua itu diabaikan maka kritik akan melahirkan sesuatu yang meresahkan. Kalau kritik keluar dari hati yang penuh dengki maka kritik hanya melahirkan kerusakan dan malapetaka. Bila kritik didasari rasa cinta maka semua akan berakhir bahagia. Tapi sebaliknya jika kritik dilahirkan karena prasangka membabi buta maka semua akan sia-sia, bahkan akan berakhir dengan perselisihan, permusuhan dan perpecahan yang berujung neraka.

Ada tujuh bentuk komunikasi menurut Ade Muzaini Aziz dalam Alquran yang sejatinya hemat saya perlu diperhatikan seorang pengritik ketika melontarkan kritikan dan gagasan-gagasannya: Pertama, sampaikan kritik dengan perkataan yang baik atau arif (qawlun ma'rufun). Perkataan jenis ini identik dengan kesantunan dan kerendahan hati. Alquran mensinyalir bahwa mengucapkan qawlun ma'ruf lebih baik daripada bersedekah yang disertai kedengkian (QS Albaqarah [2]: 263). Kedua, lontarkan kritik ucapan yang teguh (qawlun tsabitun). Perkataan ini punya argumentasi yang kuat serta dilandasi keimanan yang kokoh. Tidak ada keraguan yang menyelimutinya. Kezaliman yang nyata patut dihadapi dengan perkataan jenis ini (QS Ibrahim [14]: 27).

Ketiga, ucapkan kritik dengan perkataan yang benar (qawlun sadidun). Tiada dusta dan kebatilan dalam ucapan ini. Kata sadid berasal dari sadda yang berarti menutup, membendung, atau menghalangi. Qawlun sadid yang diucapkan berfungsi untuk mencegah terjadinya kemungkaran dan kezaliman. Bukti ketakwaan seorang Mukmin di antaranya gemar mengucapkan perkataan ini (QS Al-Ahzab [33]: 70). Keempat, nyatak kritik dengan ucapan yang efektif dan efisien (qawlun balighun). Ini adalah jenis ucapan yang cermat, padat berisi, mudah dipahami, dan tepat mengenai sasaran alias tidak ngelantur. Tipe perkataan seperti ini akan berpengaruh kuat bagi pendengarnya (QS Annisa [4]: 63).

Kelima, layangkan kritik dengan ucapan yang mulia (qawlun karimun). Ini merupakan tutur kata yang bersih dari unsur kesombongan dan nada merendahkan atau meremehkan lawan bicara. Terdapat semangat memuliakan, menghormati, dan menghargai terhadap lawan bicara dalam qawlun karim tersebut (QS Al-Isra [17]: 23). Kata karim bermakna sangat mulia. Perintah untuk berkomunikasi kepada kedua orangtua dianjurkan Ilahi dengan komunikasi gaya ini.  Keenam, sampaikan kritik dengan ucapan yang layak dan pantas atau dalam Alquran dengan istilah qawlun maysurun. Maysur arti asalnya adalah yang memudahkan. Ucapan ini mengandung unsur memudahkan segala kesukaran yang menimpa orang lain, dan menghiburnya guna meringankan beban kesedihan (QS Al-Isra [17]: 28).

Ketujuh, utarakan kritik dengan kata dan suara yang lemah lembut dan menyejukkan, yang diitilah Alquran dengan qawlun layyinun. Kelembutan diharapkan dapat menundukkan kekerasan, sebagaimana air dapat memadamkan api. Inilah pesan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika keduanya hendak menghadap Firaun yang lalim (QS Thaha [20]: 44).

Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa mengatakan, “Wajib bagi setiap orang yang memerintahkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran berlaku ikhlas dalam tindakannya dan menyadari bahwa tindakannya tersebut adalah ketaatan kepada Allah. Dia berniat untuk memperbaiki kondisi orang lain dan menegakkan hujah atasnya, bukan untuk mencari kedudukan bagi diri dan kelompok, tidak pula untuk melecehkan orang lain."

Sebenarnya memberi kritik merupakan ibadah jika ditujukan untuk amar makruf nahi munkar (untuk menegakkan kebenaran dan memerangi kejahatan). Akan tetapi tidak asal mengritik. Kritik punya etika tersendiri, selain tuju prinsip komunikasi yang disebutkan di atas, maka perlu juga diperhatikan lagi di antaranya: si pengritik meniatkan itu semua dalam rangka mengingatkan yang dikritik untuk berbuat benar, yaitu benar dalam pandang Ilahi. Kemudian, sampaikan kritik dengan cara, bahasa yang sopan dan kata-kata yang santun. Tengok dan lihatlah kepada siapa kritik ditujukan. Setelahnya, kritik sejatinya berdasarkan ilmu bukan perasaan tak berdasar. Dengan ilmu, seorang kritikus akan adil dalam menilai. Ia tidak akan terbawa dengan nafsu atau pandangan sempit serta keinginan hawa nafsu. Dengan ilmu dan keadilan dalam menilai maka pandangan dan kritikannya akan terasa arif. Kearifan merupakan modal dasar bagi seorang kritikus untuk mengritik sesuatu sehingga kritik dapat melahirkan sesuatu yang baik demi perubahan ke arah yang lebih baik di masa depan.

Wallahu a’lam.

 (Pernah dimuat di lamanriau.com pada 19/02/2021)

Shalat dan Kehidupan

 Griven H. Putera

Shalat dan Kehidupan

Shalat merupakan rukun kedua dalam Islam. Begitu pentingnya ibadah ini bagi seorang muslim, maka perintah ini dijemput langsung oleh Nabi Muhammad Saw ke Sidrat al-Mmuntaha saat melaksanakan israk dan mikraj. Dan pristiwa israk dan mikraj ini merupakan kejadian luar biasa (khariq al-‘adah) yang hanya pernah dilaksanakan oleh seorang manusia paling mulia di muka bumi yaitu nabi Muhammad Saw. Dan bagi seorang mukmin, shalat merupakan mikrajnya. Al-shalatu mikraj al-mukminin. Selain menjadi sarana mikraj, shalat juga menjadi tiang dari agama. Al-shalatu ‘imad al-din. Betapa urgennya tiang bagi sebuah bangunan. Shalat juga ibadah utama dan pertama yang dihitung di hari kiamat, bahkan tidak diperhitungkan ibadah lain sebelum ibadah ini dievaluasi oleh Ilahi. Inna awwala ma yuhasabu bihi al-‘abd yaum al-qiyamah al-sholah. Dan sejatinya ibadah shalat yang didirikan menjadi sarana untuk meminta pertolongan dari segala bentuk kesulitan. Wasta’inu bi al-shabri wa-alshalata innaha lakabiratun illa ‘ala al-khasyi’in. Serta mencegah seseorang agar tidak melaksanakan perbuatan yang fakhsya (keji) dan munkar (jahat). Inna al-shalata tanha ‘an al-fakhsya i wa al-munkar.

Bagaimana caranya agar shalat itu bisa menjadi sarana mikraj bagi seorang mukmin, menjadi tiang agama, menjadi senjata ampuh untuk keluar dari berbagai persoalan, dan mencegah orang dari berbuat keji dan munkar?

Sebelum mendirikan shalat, seseorang mesti bersuci dari najis dan hadats, karena tidak sah shalat kalau tidak bersuci. Di antara cara bersuci paling utama adalah dengan berwudhu’. Untuk itu sempurnakan wudhu’ sebelum mendirikan shalat. Kesempurnaan wudhu’ tersebut baik secara lahir maupun bathin. Setelah berwudhu’ jangan lupa berdoa kepada Allah Swt, di antaranya berbunyi: Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa asyhadu anna Muhammdan ‘abduhu wa rasuluh, allahummaj’alni min al-tawwabina, waj’alni min al-mutathahhrin, waj’alni min ‘ibadik al-shalihin. “Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukan bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad Saw adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli taubat dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.”

Dari doa itu dapat diambil beberapa pemahaman, bahwa sesudah bersuci, sebelum shalat rasul ajarkan agar pertama: bersyahadat dengan sungguh-sungguh bahwa Allah Swt semata Tuhan yang hak untuk disembah, dan bersyahadat bahwa Nabi Muhammad Saw benar-benar abdullah dan Rasulullah. Kedua, bertaubat. Kata taubat secara sederhana bermakna kembali. Jika tersesat dalam perjalanan, maka kembalilah ke pangkal jalan. Jika dalam hidup yang awalnya difitrahi Ilahi untuk berbuat yang baik, benar, lurus dan prilaku terpuji lainnya, maka kembalilah untuk melakukan yang terpuji itu. Jangan lagi mengulangi dan meneruskan perjalanan yang gelap, suram dan sesat tersebut. Kembalilah kepada nilai-nilai yang digariskan Ilahi dalam kehidupan. Kata taubat dapat juga diartikan menyucikan diri dari penyakit-penyakit ruhani, seperti ujub, ria, sum’ah, takabur, hasad dan penyakit rohani lainnya. Jadilah suci hati dari penyakit batin yang akan merusak kekhusuyu’an shalat. Ketiga, waj’alni min al-mutahahhirin; sejatinya juga membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran zahir, seperti hadats dan najis. Maka mandilah, berwudhu’lah, kenakan pakaian yang paling bersih, bagus serta memakai wewangianlah sebelum mendirikan shalat.

Setelah suci, bersih dan wangi lahir dan batin, maka yang keempat, yaitu melaksanakan buah dari menyucikan diri lahir dan batin, yaitu waj’alni min ‘ibadika al-shalihin: berprilakulah yang baik dan bermanfaat dalam kehidupan.  Saleh dapat bermakna sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang bermanfaat. Sesuatu yang baik dan bermanfaat itu terbagi dua, ada yang hanya berlaku di dan untuk dunia, dan ada pula yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Kebaikan untuk dunia dilakukan atas dorongan naluri insaniah semata, dan itu dapat dilakukan oleh semua manusia. Jadi saleh ini hanya saleh dunia. Sementara kebaikan untuk dunia dan akhirat adalah atas dorongan perintah Ilahi dan dorongan rasa kemanusiaan itu sendiri. Ini merupakan kebaikan yang dilakukan oleh seorang muslim mukmin yang semua itu dinilai ibadah oleh Allah Swt, dan mendatang ganjaran pahala. Inilah saleh yang sebenarnya, yaitu saleh dunia dan akhirat.

Begitu dahsyatnya doa sesudah berwudhu’ tersebut. Dan semua nilai ideal, yaitu menjadi orang bertauhid, orang yang bertaubat dengan sebenar taubat, menjadi orang yang suci sebenar suci, menjadi orang saleh atau baik itu perlu diusahakan, tetapi pada intinya hanya Dia, yaitu Allah Swt jualah yang punya hak prerogatif untuk menyucikan manusia secara lahir dan batin karena Dialah Zat Yang Maha Suci, dan Dia jualah yang dapat menjadikan seseorang menjadi saleh. Manusia itu pada hakikatnya lemah dan tak mampu melakukan apa-apa. Untuk itulah maka setiap mukmin yang hendak mendirikan shalat agar ia  berdoa, dan menyerahkan diri kepada Allah Swt.

Selain itu, seperti yang diisyaratkan dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 45-46, maka shalat sebagai sarana untuk mendapat pertolongan Ilahi mesti dimulai dengan sikap sabar. Apa itu sabar? Sabar artinya menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan di hati. Ia juga berarti ketabahan. Imam Ghazali mendefinisikan sabar sebagai ketetapan hati melaksanakan tuntunan agama menghadapi rayuan nafsu. Kemudian, apa itu shalat? Dari segi bahasa, shalat adalah doa sedangkan dari segi pengertian syariat Islam adalah “Ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat juga mengandung pujian kepada Allah atas limpahan karunia-Nya, mengingat Allah dan karunia-Nya mengantar seseorang untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya serta membuatnya tabah dan sabar menerima cobaan dan tugas yang berat saat menjadi khalifah fi al-ard.

Shalat tidak akan bermakna apa-apa kecuali bagi orang yang khusyu’. Innaha lakabiratun illa ‘ala al-khasyi’in. Dari redaksi ini terlihat, ternyata khusyu’ sudah ada sebelum shalat. Lalu siapakah orang yang khusyuk itu? Allazina yazunnuna annahum mulaqu rabbihim wa annahum ilaihi raji’un: yaitu orang-orang yakin bahwa mereka pasti menemui Tuhan mereka, dan mereka yakin bahwa kepada-Nya mereka akan kembali. Tumbuhkan keyakinan dengan sebenar-benar yakin bahwa kita akan menemui Tuhan dalam shalat, dan anggaplah itu merupakan shalat terakhir dalam kehidupan ini, anggaplah setelah shalat ini kita akan menemui ajal, karena, Iza shollaita fasholli shalatal muwaddi’: maka apabila Engkau shalat, maka shalatlah seperti shalat yang terakhir, demikian pesan Nabi Muhammad Saw kepada sahabat, Abu Ayyub al-Anshory.

Oleh karena makna pengertian shalat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, maka yang amat diperhatikan dalam shalat adalah takbir. Takbir secara sederhana bermakna membesarkan, mengagungkan, maka besarkan dan agungkan Allah Swt. Bahwa Dialah sumber dari segalanya. Tidak ada yang agung dan besar dalam hidup ini kecuali Dia. La haula wala quwwata illa billahi al-‘aliy al-‘azhim.  

Lalu salam. Salam seakar katanya dengan Islam dan muslim. Salam secara harfiah dapat juga bermakna menyerahkan diri, keselamatan dan kesejahteraan. Setelah shalat didirikan, maka menjadi muslimlah, menjadilah orang benar-benar menyerahkan diri secara total kepada Allah Swt, lakukan perbuatan yang menebarkan  Islam, yaitu penuh kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan bagi alam semesta. Jadilah “Muhammad kecil”, yaitu manusia yang selalu berusaha menebarkan rahmatan li al-‘alamin, manusia yang mencoba mengikuti manusia panutan, yaitu mengikuti Nabi Muhammad Saw.

Wallahu a’lam.

 

 (Pernah dimuat di lamanriau.com pada 05/03/2021)

Bersiap di Syakban

 Griven H. Putera

Bersiap di Syakban

Menurut hitungan kalender, hari ini sudah 12 Sya’ban/Syakban. Artinya tinggal beberapa pekan lagi akan masuk bulan Ramadhan. Pada bulan ini ada doa yang selalu dilantunkan Rasulullah Saw dan kaum muslimin, yaitu: Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’ban, wa ballighna Ramadhan. (Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rajab dan Syakban, dan sampaikan umur kami pada bulan Ramadhan).

Kenapa Rasulullah selalu mengucapkan doa tersebut? Zalika syahrun yaghfulu al-nasa ‘anhu baina rajaba wa ramadhan. (Karena pada bulan itu manusia lalai memperhatikannya. Bulan tersebut adalah yang berada di antara Rajab dan Ramadhan).

Bulan Ramadhan diperhatikan dan dimuliakan manusia karena pada saat itu ada sebuah bonus istimewa dari Allah Swt. yaitu diturunkan Lailat al-Qadar. Mukmin yang beribadah pada saat itu sama dengan beribadah selama seribu bulan, bahkan lebih daripada itu. Rajab diagungkan karena bulan tersebut termasuk syahr al-haram (bulan mulia), pada bulan tersebut turunnya perintah shalat wajib setelah Rasulullah Saw. melakukan rihlah akbar Isra dan Mikraj. Sementara bulan Syakban dimuliakan, karena  Rasulullah Saw. bersabda, “Wa huwa syahrun turfa’u fiihi al-a’malu, wa uhibbu an yurfa’a ‘amali wa ‘amali shaim”. (Pada bulan itu diangkat amalan, dan aku mencintai Allah Swt mengangkat amalanku dan amal orang yang berpuasa).

“Sesungguhnya Allah memperhatikan  malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan. Pada saat itu semua dosa hamba yang beribadah diampuni kecuali;fayaghfiru lijami’i khalqihi illa limusyrikin wa musyahin. (Semua dosa diampuni kecuali dosa musyrik dan dosa orang yang tidak mau berdamai dengan orang lain).

Ada beberapa persiapan yang sejatinya dilakukan hamba pada Syakban demi menyambut kedatangan Ramadhan. Di antaranya: pertama melakukan muhasabah (perenungan diri). Seorang mukmin yang baik hendaknya menyediakan suatu waktu di mana ia menyendiri (berkontemplasi); mengaji diri; siapa dia; dari mana ia berasal; sedang di mana kini; dan akan kemana nanti. Kalau ia seorang hamba Allah, sudahkah semua kehendak Allah dilakukan dalam hidupnya selama ini. Jangan-jangan ia telah berubah menjadi hamba dunia, hamba nafsu, hamba setan, hamba harta, budak jabatan, budak atasan atau hamba istri dan anaknya. Jika itu terjadi, menyesallah.

Kedua, lakukan taubat nasuha. Sesali kekhilafan, kesali dan tangisi kesalahan dan semua dosa yang pernah dilakukan. Setelah itu ucapkan banyak-banyak kalimat istighfar (Astaghfirullah a-‘ aziem). Rasulullah Saw. saja yang bebas dari dosa (al-ma’shum) melakukan istighfar 100 kali sehari semalam, maka sebagai umatnya, tentulah dituntut lebih banyak lagi. Setelah itu, bertekadlah dalam hati untuk tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut.

Taubat atau tawbah (bahasa Arab) itu terdiri dari huruf T, W, B, H (ta marbuthah). Menurut beberapa ulama, T itu merupakan tarku ‘an al-mukhalafat (meninggalkan semua kesalahan) wa al-nadmu min al-zunubi (menyesali semua kesalahan yang telah dilakukan). W: wushulu ila tha’atillah (melakukan ketaatan kepada Allah). B: barakatillah (mendapat berkah Allah). H: Hidayatullah. (menuai hidayah Allah). Artinya, orang taubat adalah orang yang berusaha meninggalkan kebiasaan buruknya, menyesali perangai tak baik yang pernah dilakukannya, kemudian ia pun melakukan ketaatan kepada perintah Allah dan rasul-Nya. Selanjutnya ia akan menerima berkah Allah dan mendapat hidayah-Nya.

Ketiga, perbaiki hubungan dengan sesama manusia. Islam ini intinya adalah agama yang mendorong umat manusia hidup rukun dan damai dalam kebersamaan. Pada bulan Syakban jangan ragu minta maaf dan memaafkan kepada orang tua, tetangga, karib kerabat, sanak saudara, handai taulan, bawahan dan atasan. Jalin silaturrahim dengan sesama manusia. “La yadkhul al-jannah qathi’u al- rahmi wa jaru al- su,i”. (Tidak masuk syurga manusia yang memutuskan tali silaturrahim dan tetangga yang jahat). Dalam tradisi Melayu, terjadi jenguk menjenguk sanak keluarga di bulan Syakban, biasanya usai melaksanakan petang megang di petang terakhir Syakban, sebelum melakukan ibadah puasa. Yang muda mengunjungi rumah yang tua, sang adik bertamu ke rumah kakak atau abangnya, hamba rakyat bersilaturrahim ke rumah para tetua adat, tokoh agama, dan peneraju lembaga pemerintahan. Memutihkan hati demi menyambut bulan putih (Ramadhan). Ini merupakan implementasi orang Melayu dalam memahami hadits di atas.

Keempat, bagi yang kurang sehat fisiknya, di pengujung Syakban mengurangi aktivitas berlebihan, agar ketika masa Ramadhan tiba, ia mampu melakukan puasa di siang hari dan kuasa mendirikan shalat tarawih serta ibadah lainnya ketika malam.

Kelima, mempersiapkan Alquran. Sebagai kitab suci umat Islam, sejatinya muslim memiliki Alquran baru setiap tahunnya. Kaum muslim biasanya akan membeli baju baru, mengecat rumahnya dengan warna baru, kalau perlu membeli mobil baru di penghujung Ramadhan, tapi sebagian mereka lupa pada Alquran dengan corak dan kelengkapan baru yang lebih sempurna. Lebih baiknya, Alquran baru tersebut ada petunjuk membacanya, baik dari segi tajwid, seni maupun makna dan tafsirannya. Bagaimana Alquran jadi pedoman dan petunjuk kehidupan, sementara isi kandungannya tidak diketahui dan dipahami. Jika merasa kesulitan membawa Alquran besar, maka Alquran digital menjadi solusi terbaik. Isilah handphone dan gadget dengan versi Alquran dari berbagai ragam seni bacaan dan tafsirannya yang diakui ijmak ulama. Yang terpenting lagi adalah bagaimana memperbaharui tersus menerus pengalaman nilai Alquran dalam kehidupan ini.

Keenam, mengqadha puasa yang luput di tahun lalu. “Man mata wa ‘alaihi shiyamun, shama ‘anhu waliyyuhu.” (Orang yang telah meninggal dunia dan ia punya utang puasa, maka keluarganya yang membayarnya). Jadi, bagi yang belum mengqadha puasa yang tidak dilaksanakan pada Ramadhan lalu, maka pada bulan Syakban ini merupakan masa tersisa untuk membayar utang tersebut karena itu merupakan utang kepada Allah. Jika itu tak dibayar, dan ia meninggal dunia, maka utang itu dibebankan kepada ahli warisnya.

Ketujuh, mengetahui seluk beluk Ramadhan. Memiliki buku atau kitab tentang Ramadhan merupakan hal yang mustahak dilakukan. Mengetahui apa itu puasa, apa amalan utama serta pantang larang yang dilakukan selama Ramadhan. Mulai metode zikir, cara bertarawih yang baik dan benar serta mengetahui pentingnya sahur serta amalan-amalan sunat lainnya.

Kedelapan, mempersiapkan logistik berlebih sebagai stok selama Ramadhan. Persiapan lebih ini bukan hanya untuk pribadi dan keluarga tapi untuk dibagi bersama saudara seiman dan se-iktikad selama bulan Ramadhan. Berbagi perbukaan puasa saja demikian besar ganjarannya apalagi membantu biaya kehidupan yang lebih besar. “Man fatthara shaiman kana lahu mistlu ajrihi.” (Orang yang memberi perbukaan bagi yang puasa, ganjarannya sama dengan orang yang puasa tersebut).  

Sembilan, sebagai seorang muslim-mukmin yang jati, kaum muslim mulai saat Syakban ini sejatinya telah melakukan survey kecil-kecilan bagi saudara dan tetangganya yang memerlukan bantuan.  Ia jenguk kaum miskin di kampung kumuh dan panti jompo, ia tengok saudara sesama muslim di rumah sakit, melakukan ziarah ke pusara ayah-bunda dan sanak keluarga yang telah berpulang ke rahmatullah. Dengan melakukan itu semua, hati menjadi peka, menjadi lembut (lathif dan hanif), sehingga ia pun mulai mengulurkan pertolongan. Ketika nanti Ramadhan tiba, uluran bantuan tersebut pun makin berlimpah sehingga jadilah ia sebagai mukmin yang insan al-kamil, manusia yang memperoleh award berupa muttaqin. Kehadirannya dinantikan, kepergiannya ditangiskan. Di dunia bahagia, balik ke alam baka dalam naungan ridha Allah Swt.

Wallahu ‘alam.

(Tulisan ini pernah dipublikasikan di lamanriau.com pada 26/03/2021)

 

Rihlah Imaniah

 

Griven H. Putera

Rihlah Imaniah

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Q.S. Al-Israa: 1)

Ayat di atas menjadi dalil utama tentang perjalanan isra mikraj nabi Muhammad Saw. Yaitu rihlah atau perjalanan material-spritual Nabi Muhammad Saw pada suatu malam di bulan Rajab dari Mesjid al-Haram di Mekkah ke Mesjid al-Aqsha di Palestina, naik ke langit lalu sampai ke Sidrat al-Muntaha, bahkan di atas itu dalam rangka melihat tanda-tanda kebesaran Ilahi dan menjemput perintah shalat fardhu.

Menurut M Qurays Shihab, isra mikraj itu merupakan perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Bait Al-Maqdis, naik ke Sidrat Al-Muntaha – bahkan melampauinya – lalu kembali lagi ke Makkah dalam waktu yang sangat singkat merupakan peristiwa suprarasional yang tidak dapat dihayati kecuali melalui pendekatan imani. (M. Quraysh Shihab:1994).

Sebelum nabi Muhammad Saw dipanggil ke langit, terdapat beberapa orang nabi dan rasul yang telah melakukannya akan tetapi mereka tidak pulang lagi ke bumi, di antara mereka adalah nabi Idris As dan nabi Isa As. Akan tetapi nabi Muhammad Saw dipanggil Ilahi, dan kembali lagi ke bumi untuk meneruskan perjuangan dakwah yang masih terbengkalai. Ini juga menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan nabi termulia di antara para nabi sehingga ia dapat disebut sebagai imam para rasul.

Selain itu, melihat kejadian isra dan mikraj ini, nabi Muhammad Saw dapat disebut sebagai astronout pertama dan utama di dunia yang mampu melintasi berbagai galaksi yang ada bahkan sampai ke langit dan berujung di Sidrat al-Muntaha. Di Sidrat al-Muntaha ini juga membuktikan betapa mulianya nabi Muhammad Saw bila dibandingkan dengan malaikat, karena di sini hanya Nabi Muhammad sendiri yang langsung berdialog dengan Ilahi. Malaikat Jibril yang semula menemaninya tidak lagi bersamanya.

Selain itu, nabi Muhammad Saw telah melawati dimensi-dimensi waktu, yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan. Dimensi masa lalu tergambar jelas saat ia bertemu dengan para nabi dan rasul terdahulu, seperti Adam, Yahya, Yusuf, Harun, Musa, Ibrahim As dan lain-lain. Nabi Muhammad Saw juga memasuki dimensi waktu masa depan dengan melihat langsung keadaan penduduk neraka, seperti adanya seseorang yang memikul kayu api yang sudah keberatan lalu minta tambah beban lagi, atau seorang perempuan yang menggunting lidahnya terus menerus, dan berbagai pristiwa buruk lainnya akibat dari amalan buruk yang dilakukan mereka selama hidup di dunia.  

Di Surga nabi melihat orang yang saat itu menanam, saat itu juga berbuah, dan saat itu juga dituai atau dipanen. Ini merupakan gambaran dari surat Al-Baqarah ayat 261: Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Selain pristiwa itu, nabi juga melihat kejadian-kejadian indah lainnya yang merupakan pelajaran amat berharga bagi kaum beriman, dan menjadi motivasi besar agar mereka terus melakukan kebaikan dan kebajikan dalam hidup karena semua itu akan mendapat ganjaran dari Allah Swt. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."(Q.S. Al-Zalzalah: 7-8)

Surat Al-Isra ayat 1 di atas dimulai dengan kalimat tasbih yaitu subhanallazi (Maha Suci Dia Allah) dan diakhiri dengan innahu huwa al-sami’ al-bashir (Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat).

Apa sebenarnya yang didengar dan dilihat Allah Swt?

Pertama, dalam menjalankan misi dakwah, saat itu kondisi nabi dan para sahabat dalam tekanan amat luar biasa dari kaum kafir. Kondisi umat Islam benar-benar dalam kegelapan. Benar-benar dalam penderitaan yang sangat, bahkan dalam embargo ekonomi yang sangat hebat dan menyakitkan. Kedua, Rasulullah Saw saat itu dalam kondisi amat berduka karena baru saja ditinggal para penopangnya dalam mendakwahkan Islam, yaitu istrinya tercinta Khadijah al-Kubra dan pamannya Abu Thalib. Ketiga, saat di Thaif, ia mendapat penghinaan luar biasa dari masyarakat Bani Tsaqif. Tujuan semula agar memperoleh suaka malah mendapat siksa dan derita. Saat itu nabi berdoa, dan doa itulah yang dijawab oleh Allah Swt bahwa Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Bahwa Allah Swt mendengar dan melihat yang dialami nabi dan sahabatnya dalam memperjuangkan Islam, itu dibuktikan-Nya dengan memperjalankan Nabi Muhammad Saw sebagai Rihlah Imaniah  melalui safari isra mikraj. Seperti yang diungkapkan M Qurays Shihab di atas, pristiwa besar ini memang hanya dapat dicerna oleh hati yang diisi dengan iman.

Safari akbar ini juga memberi gambaran, bahwa ketika nabi isra mikraj yang melintasi alam demi alam, galaksi demi galaksi, bahkan sampai ke langit dan alam yang tinggi, ia melihat dan menyaksikan betapa bumi ini sangat kecil bahkan tiada apa-apanya. Kejadian ini dapat memberi pelajaran dan pengajaran bahwa ketika seseorang mengalami berbagai himpitan dan tekanan di bumi dan oleh penduduk bumi dalam berbagai ihwal yang tidak mengenakkan, maka segeralah merapat ke langit, bergegaslah untuk berteman dan bersahabat akrab dengan penduduk langit. Apalagi kalau bersahabat karib dengan Dia yang memiliki dan menentukan segalanya.

Wallahu a’lam.

 

 (Tulisan ini pernah dimuat di lamanriau.com pada 12/03/2021)

Harimau Tjampa

 

Griven H. Putera

Harimau Tjampa

Harimau Tjampa alias Imau Compo merupakan sebuah film yang digarap D. Djajakusuma (Sutradara) dan Usmar Ismail (Produser). Film ini dirilis Perfini pada 1953. Dibintangi beberapa aktor dan aktris hebat kala itu seperti B Hermanto, Nurnaningsih, Rd Ismail, Tity Savitry dan lain-lain. Film Melayu yang berlatar alam Minangkabau ini sarat dengan nilai-nilai, terutama nilai Islam dan Melayu, serta bagaimana eratnya persebatian dunia Melayu dengan ajaran Islam. Selain itu juga terdapat filosofi mendalam dan mendasar tentang ilmu silat nusantara.

Cerita dimulai dengan menggambarkan alam Minangkabau era tahun 50-an dengan rumah gadang serta bendi yang membawa Lukman dari negeri Tanjung ke negeri Pauh hendak mencari guru silat. Pertama bertemu dengan pendekar dan kepala kampung yaitu Datuk Langit yang tak sudi mengajarinya karena Lukman tak dapat menyerahkan seeokor kerbau sebagai syarat berguru. Dalam perjalanan penuh kesal, ia bertemu dengan Pendekar Saleh yang baru saja menghajar anak buah Datuk Langit hingga babak belur.

Setelah melalui beberapa tahapan dan syarat yang ditentukan seperti harus sabar, beriman teguh, dan lain-lain, akhirnya Lukman menjadi murid Pendekar Saleh hingga tamat dan digelari Harimau Tjampa. Dalam pada itu Lukman jatuh cinta pada gadis bernama Kiah akan tetapi lamarannya ditolak keluarga Kiah, terutama Biran (abang kandung Kiah) yang merupakan anak buah Datuk Langit. Diam-diam rupanya Bedah, istri ketiga Datuk langit menyimpan hati pada Lukman setelah pandangan pertama saat Lukman hendak belajar silat pada Datuk Langit. Datuk Langit rupanya ingin menambah istri lagi, ia bermaksud melamar Kiah, sang kekasih Lukman yang tak sampai.

Lukman menaruh dendam pada Abang kandung Kiah, lalu mereka berkelahi, dan akhirnya sang bandar judi itu tertikam pisaunya sendiri. Lukman mengadu kepada gurunya, tapi oleh gurunya Lukman harus masuk penjara untuk mendapat pelajaran tambahan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Di dalam penjaralah baru Lukman tahu kalau Bedah, istri ketiga Datuk Langit menaruh cinta padanya dan mengabarkan kalau Kiah akan dilamar Datuk Langit. Dan di penjara juga Lukman memperoleh informasi kalau pembunuh ayahnya yang bernama Ali Akbar adalah Datuk Langit. Kabar ini menguatkannya untuk meminta pertanggungjawaban Datuk Langit atas kebiadabannya selama ini. Dengan dibantu seorang teman, Lukman melarikan diri dari penjara. Ia langsung bertemu gurunya Pendekar Saleh. Pada awalnya sang guru marah akan tetapi ketika Datuk Langit datang menantang Lukman untuk bertarung, justru Pendekar Saleh menyerahkan sebilah pusaka. Akhirnya Datuk Langit kalah melawan Lukman akan tetapi Lukman tidak jadi membunuhnya karena polisi dan penduduk ramai datang ke arena perkelahian. Datuk Langit dan Lukman sama-sama digiring polisi.

Nilai yang dapat diambil dari film klasik ini. Pertama, bagi seorang pencinta seni beladiri silat, maka ia mesti beriman secara teguh. Iman menjadi syarat utama dan pertama dalam belajar. Hal ini dapat dilihat dari syarat yang diajukan oleh Pendekar Saleh saat Lukman hendak belajar. 

“Berguru silat tidak mudah,Man. Kepintaran silat hanya untuk orang yang betul-betul tabah imannya. Lihat ini,” kata Pendekar salaeh memperlihatkan foto seseorang yang sesungguhnya adalah ayah Lukman. “...dia seorang pendekar besar, disegani orang kemana pergi. Tetapi sepandai-pandai tupai melompat, sesekali jatuh juga. Ia salah niat. Musuh dicari-cari. Tidak beban batu didagang. Ia korban karena perbuatannya.”

Selain itu, seorang pendekar silat atau pendekar apapun, termasuk pendekar politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya, sejkatinya kehebatannya mesti digunakan untuk mempertahankan keadilan. “Silat bukan menyerang gunanya. Hanya untuk mempertahankan keadilan,” ungkap Pendekar Saleh.

Iman menjadi dasar dan prinsip hidup seorang pendekar. Bila iman tidak teguh maka pendekar akan menjadi penjahat. Akan selalu berada dalam ketakutan dan kepanikan karena takut dikalahkan. “Orang yang tidak teguh imannya, ia selalu takut ditikam orang lain. Bayang-bayang disangka musuh. Bagi saya, musuh tidak dicari-cari. Bertemu pantang dielakkan. Dan kalau sudah terhentak ruas ke buku, terdesak padang ke rimba, tak dapat mengelak lagi, penghapus arang di kening, “ nasehat Pendekar Saleh pada Lukman.

Kedua, Film ini memperlihatkan gerak dasar ilmu silat seperti langkah empat, dan mengasah mata agar selalu awas dan tajam serta lain-lain. Selain itu, sebagai guru, Pendekar Saleh mewakili jiwa pendekar Melayu yang hidup dengan tuntunan Islam. Sebelum mengajar silat, ia mengajak para muridnya shalat berjemaah dahulu. Sebelum masuk gelanggang, seorang murid diminta bersalaman dengan teman-teman seperguruannya. Sesekali mengajak muridnya membaca selawat nabi, dan selalu mengajak murid-muridnya berakhlak mulia dalam kehidupan.

Ketiga, musik yang melatari cerita begitu sanggam dan sesuai dengan kejadian dan alam yang diperlihatkan. Sesekali musik asli Minangkabau, sesekali musik Melayu secara umum. Saya begitu suka dan terpesona ketika dalam salah-satu lagu yang diputar dalam film itu menyebut Indragiri dan Pekanbaru. Lagu Melayu itu menjadi syahdu karena dimasukkan dalam rasa dan suasana yang tepat. Maka tidak salah kalau musik film yang disajikan Tjok Sinsoe ini meraih anugerah pada ajang Festival Film Asia 1955 kategori musik terbaik. Selain itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Tinggi alias bahasa Indonesia yang dipahami masyarakat Nusantara.

Keempat, kata Harimau Tjampa banyak diperdebatkan apakah Tjampa itu merupakan wilayayah kerajaan Campa di daerah Kamboja-Vietnam atau lainnya? Hemat saya, itu tidak berkait dengan tempat karena dalam film tersebut sudah jelas disebutkan kalau Lukman yang digelari Harimau Tjampa oleh Pendekar Saleh berasal dari negeri Tanjung, dan jelas sekali ia naik bendi menuju negeri Pauh (Negerinya Pendekar Saleh). Harimau Tjampa alias Imau Compo (bahasa kampung saya) biasa digunakan para orang tua-tua kami bila marah kepada seseorang. “Ditokam imau compo elok e budak ko!/ Diterkam harimau campa bagusnya anak ini!”. Jadi harimau tjampa alias imau compo itu merupakan sebutan bagi harimau yang sangat ganas, garang dan bersikap brutal lainnya. Dan itu terlihat dari kehebatan Lukman dan sikapnya yang susah diingatkan, payah diatur, keras kepala yang berkali-kali berkelahi, dan sering menyalahi janji kepada gurunya.

Kelima, sebagian memberitakan kalau dalam film ini terdapat adegan pornografi yang dimainkan Nurnaningsih. Akan tetapi, saya tidak melihat adegan tersebut. Barangkali karena sudah disensor atau hanya cerita yang dibesar-besarkan karena Nurnaningsih sebagai aktris di masanya dianggap keluar dari adat ketimuran.

Keenam, sebagai sebuah karya intelektual, film ini tidak luput dari sebuah usaha kritik terhadap kekuasaan. Datuk Langit sebagai penguasa dan pendekar seolah tanpa tanding tidak boleh semena-mena terhadap rakyatnya. Betapapun hebatnya ia, suatu saat yang batil pasti dikalahkan yang hak. Di atas langit pasti ada langit. Hebatnya Datuk Langit dikalahkan seorang muda belia bernama Lukman yang bergelar Harimau Tjampa.

Ketujuh, film yang pernah menjadi pemenang kategori skenario terbaik Festival Film Indonesia ini  diangkat dari budaya luhur bangsa, sejatinya film ini menjadi inspirasi bagi sineas Indonesia sekarang agar menyajikan kisah-kisah, baik di layar lebar maupun di sinetron agar tontonan yang disajikan tidak saja menghibur dan berorientasi komersial semata akan tetapi juga mendidik dan memperkenalkan budaya luhur nenek moyang mereka.

(Tulisan ini pernah dimuat di lamanriau.com pada 26/02/2021

Kamis, 25 Februari 2021

Kematian Indah

oleh: Griven H. Putera

 

Al-nasu niyamun, faiza matu, intabahu. Manusia itu tertidur, apabila mati barulah ia bangun.

Ungkapan di atas ada yang mengatakan hadits Nabi Saw, ada juga yang menyebutnya perkataan Ali bin Abi Thalib. Ada juga yang mengungkapkan kalau itu merupakan kata-kata Sahl bin Abdillah Al-Tustury. Yang terpenting, kata mutiara itu mustahak jadi renungan.

Ya, banyak di antara manusia hari ini sedang tertidur lelap dalam mimpi-mimpi fatamorgana. Yang baik menurut Ilahi terkadang dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Yang indah menurut Tuhan dipandang jelek dengan mata nafsu buruk. Dia tak menyadari pesan Imam Al-Ghazali, bahwa nafsu dapat membuat seorang raja menjadi budak. Sementara sabar bisa membuat seorang budak menjadi raja.

Manusia mengejar segalanya, mulai harta, tahta, wanita dan sebagainya dengan segala cara, seolah hidup di dunia bakal kekal selamanya. Padahal, mungkin baru tadi pagi, ada orang di sebelah rumah, tetangga dan sahabatnya baru pulang ke kampung abadi. Tapi dia melihat itu hanya sebagai pemandangan biasa.

Padahal itu merupakan mula hari panjang dalam kehidupannya. manusia menganggap semuanya tidak pernah dipertanggungjawabkan. Sering menganggap setelah mati semuanya selesai.

Mereka menyangka mati itu tidur panjang untuk istirahat selamanya. Padahal bukan. Matilah adalah awal seseorang memasuki perjalanan dan perjuangan yang amat berat dan dahsyat di masa yang akan datang. Sebesar zarah saja keburukan yang dilakukan, suatu ketika dia akan melihatnya dan mempertanggung jawabkannya.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” [QS. 99:7-8]

“Mahasuci Allah yang dalam genggamannya kekuasaan, dan Dia berkuasa terhadap segala sesuatu. Dia yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antaramu yang paling bagus amalnya, dan Dia Maha perkasa lagi Maha Pengampun.” [QS. 67:1-2]

Manusia hidup di dunia ini sedang dalam perantauan, dan suatu ketika akan pulang ke kampung halaman. Kampung halaman yang sejati adalah alam akhirat. Sungguh menyesal nanti ketika akan pulang namun tak membawa bekal-apa-apa. Manusia banyak menyiapkan bekal untuk masa tua di dunia ini. Disiapkannya deposito untuk masa depan pendidikan anak-anaknya, dan lain sebaginya. Tapi dia lupa untuk defosito kehidupan akhiratnya yang sangat panjang dan melelahkan.

Dia bangun rumah mewah, hidup bergurau senda dengan kaum kerabat dan handai taulan. Dia beli mobil mewah tidak cukup satu atau dua. Disiapkannya biaya perjalanan mengelilingi dunia. Akan tetapi sayang, sering abai dengan rumahnya di alam barzah, ia cuai dengan perjalanan dan kendaraan di padang mahsyar kelak.

Dia tak pernah menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang yang amat melelahkan dan merisaukan. Terkadang dibangunnya rumah wah-nya dengan cara tidak benar, dia beli mobil mewah dengan jalan tak sesuai keinginan Ilahi. Ia kejar dan raih pangkat serta jabatan dengan cara culas, mencuri, menipu atau dengan mencari-cari kesalahan orang serta cara-cara kotor lainnya. Terkadang ia tersenyum jumawa di balik tangis orang lain. Dia tertawa terbakah-bakah di balik duka dan nestapa orang-orang miskin.

Jika itu yang dilakukan, jika nafsu burut diperturutkan; Tunggulah. Tunggulah. Tunggulah masa ketika akan dipersiapakan Tuhan sebuah rumah neraka dan fasilitas jahanam lainnya dari hasil perbuatan yang melawan keinginan Tuhan tersebut.

Manusia hidup di dunia ini hanya seperti seorang penyelam di lautan indah dan dalam yang sedang disuruh menemukan sebutir mutiara. Dilengkapi oksigen yang penggunaannya terbatas. Di lautan, beragam keindahan akan disaksikan, mulai batu karang dengan aneka ragam, ikan dan biota laut nan indah warnanya pun berbagai macam.

Di keindahan lautan ia terlena. Ia lupa tugas utamanya. Ia terpukau dengan keindahan yang fatamorgana itu. Ia lupa mencari mutiara berharga yang menjadi tugas dia yang sesungguhnya. Maka ketika oksigen habis, barulah ingat kalau mutiara belum ditemukan. Dia pun terpaksa naik ke permukaan, karena takut tenggelam dan mati sia-sia.

Ketika sampai di bibir kapal, maka sang pemilik kapal menanyakan mutiara yang dipesan. Ia hanya terdiam. Tugasnya pun gagal. Maka pemilik kapal pun akan marah dan meninggalkannya hingga tenggelam.

Maka begitulah, Tuhan merupakan pemilik kapal kehidupan dunia ini. Suatu ketika tugas manusia sebagai hamba-Nya akan diminta pertanggung jawaban. Jika tak mampu meraih dan mempertanggungjawabkannya, maka karamlah ia.

Wama khalaqtu al-jinna wa al-insa illa liya’buduni. [QS. 51:56]. Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.

Mutiara hidup yang sedang dicari adalah menjadi ‘abid atau hamba hakiki dari Dia sang Maha Penguasa. Hamba yang selalu bertakwa kepada Allah Swt.

Siapkan bekal, siapkan bekal. Dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Fazawwadu, fa innna khaira zad al-taqwa. [QS. 2:197]. Berbekallah, sebaik-baik bekal adalah takwa.

Mari takut melakukan perbuatan yang dilarang Allah Swt dan Rasulullah Saw. Mari jalin silaturrahmi. Mari berbagi rezeki. Mari hiasi bibir dengan kata bermadu yang menyehatkan orang lain, mari pandang manusia lain dan alam semesta sebagai bunga-bunga Tuhan yang indah dan berwarna-warni. Mari sisihkan sebagian rezeki untuk orang-orang yang memerlukan. Mari gunakan kekuasaan dan kekuatan untuk menebarkan rasa cinta dan kasih sayang.

Demi masa, sesuuguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, orang-orang yang saling nasehat menasehati dengan kebenaran dan kesabaran. [QS. 103:1-3]

Hidup di dunia serba bertunangan, hidup di dunia serba berpasangan. Siang, malam. Hitam putih. Duka, bahagia. Baik, buruk. Hidup, mati. Semua manusia pasti mati.

Kullu nafsin zaiqat al-maut. [QS. 29: 57]. Setiap yang bernyawa pasti mati. Kata Imam Al-Ghazali, jadikan kematian itu hanya pada badan karena tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap masa.

Hamzah Fansury dalam Syair Perahu-nya juga bertutur: Kenali dirimu di dalam kubur, badan seorang hanya tersungkur, dengan siapa lawan bertutur, di balik papan badan terhancur.

Kini tinggal pilih. Mati dalam keadaan sengsara atau mati dalam keadaan indah? Kalau ingin kematian yang indah, maka mulai detik ini, ubah cara pikir, cara pandang dan cara kerja untuk selalu membuat orang lain tersenyum bila melihat, mendengar dan bersua dengan kita. Mari menjadi insan yang tenang. Mari menjadi khalifah fi al-ard. mari menjadi hamba Allah yang jati. Yaitu manusia yang berjiwa teduh.

Ya ayyatuha al-nafs al-muthmainnah. Irji’ ila Rabbbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhuli fi i’badi, wadkhuli jannati. [QS. 89: 27-28]. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Wallahu a’lam.

(Tulisan ini pernah dimuat di lamanriau.com pada 23 Oktober 2020)

Etika Leadership

oleh: Griven H. Putera


Tenas Effendy dalam Tunjuk Ajar Melayu berpesan: Bertuah ayam ada induknya, bertuah serai ada rumpunnya, bertuah rumah ada tuanya, bertuah kampung ada penghulunya, bertuah negeri ada rajanya, bertuah imam ada jamaahnya.

Bila negeri tidak beraja, bila kampung tidak berpenghulu, bila rumah tidak bertuan, angin lalu tempias lalu, tuah hilang marwah terbuang, hidup celaka sengketa pun datang.

Leader is the cultural builder: Pemimpin merupakan pembentuk budaya yang dipimpin.

Rasulullah Saw merupakan figur kepemimpinan dalam Islam dan orang Melayu. Ia menjadi contoh ideal pemimpin idaman yang tidak saja disanjung, dikagumi, dan dicotoh-teladani pengikutnya tapi juga diakui oleh orang lain bahkan lawan-lawannya sendiri. Karena ia memang telah ditabalkan Ilahi sebagai figur tiada tanding, teladan tiada banding. “Sungguh pada dirimu Rasulullah (Muhammad) panutan yang baik.”

Keteladanan nabi Muhammad Saw tercakup dalam semua aspek kehidupan, termasuk kepemimpinan. Berbicara tentang figur leadership Rasulullah Saw tak lepas dari Alquran karena kitab itu menjadi dasar ia melakukan segala hal dalam kehidupan termasuk ketika memimpin umat manusia. Ketika Aisyah ra ditanya seperti apa prilaku nabi, Aisyah pun menyatakan bahwa akhlak beliau adalah Alquran. Jadi, Nabi Muhammad Saw merupakan Alquran yang hidup atau the rule quranic.

Saat ia dan sahabat menderita kekalahan telak dalam perang uhud, nabi agak terpukul karena kekalahan tersebut akibat ada beberapa sahabat yang tidak mengindahkan arahan beliau. Saat itu terbunuh 70 sahabat, termasuk pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib. Sebagai manusia, ia kecewa terhadap beberapa sahabat yang tidak mengikuti arahannya. Dan ia merasa bingung harus bersikap apa terhadap beberapa sahabat yang tidak mematuhinya.

Menurut sebagian ahli tafsir, turunlah surat Ali Imran ayat 159 sebagai petunjuk bagi nabi dalam menghadapi para sahabatnya tersebut: “Maka berkat rahmat Allah Swt, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.”

Bila menelisik ayat tersebut ada beberapa hal yang mesti dilakukan seseorang atau pemimpin ketika menghadapi yang dipimpinnya. Pertama, ia mesti berlemah-lembut kepada orang-orang yang telah menyakitinya. Kedua, jangan berucap pedas, berlaku kasar dan keras serta bersikap diktator. Ketiga, jangan berhati bebal atau keras sehingga tak mampu melihat luka, nestapa dan derita dari rakyat atau orang-orang yang yang berada dalam kepemimpinannya. Keempat, sudi memaafkan kesalahan mereka, dan tidak pernah marah yang tak mendidik atas perlakuan mereka yang tidak menyenangkan. Kelima, mintakanlah ampunan buat orang yang dipimpin kepada Ilahi. Nabi Muhammad saw berpesan, “Sebaik-baik pemimpin adalah kalian mencintai mereka, dan kalian pun mendoakan mereka, dan mereka pun mendoakan kalian. Sedangkan sejelek-jelek pemimpin  kalian adalah kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian.”

Keenam, bermusyawarahlah dalam berbagai urusan yang sedang dihadapi. Ketujuh, setelah melakukan semua itu maka serahkanlah segalanya kepada Allah Swt (tawakkal) karena Allah amat mencintai orang-orang yang bertawakkal.

Tujuh tahapan di atas, bukan saja etika atau sikap baik yang dilakukan seorang pemimpin dalam skala makro, seperti mengurus kenegaraan tapi juga dalam skop mikro, seperti bagi diri dan rumah tangga. Karena pada dasarnya, semua orang adalah pemimpin, seperti yang disabdakan Nabi Saw, “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban dari kepemimpinannya.”

Dalam hadits tersebut, pemimpin memakai kata ra’in yang makna asalnya adalah penggembala. Sejatinya, seorang pemimpin selalu menggembala rakyatnya. Di antara sikap penggembala kepada gembalaannya adalah hampir saban waktu memikirkan nasib gembalaannya. Mulai bangun pagi sampai tidur terus memikirkan gembalaannya, dan ia ingin gembalaannya terus sehat dan selamat dari berbagai ancaman dan bahaya. Lalu ia melakukan berbagai hal agar gembalaannya tersebut selalu aman, kenyang, nyaman dan sejahtera dalam berbagai hal.

Jika dilihat dari skala luas seperti mengelola negara, maka tujuh tahapan etika kepemimpinan tersebut dapat dipakai dalam menjalankan roda kepemimpinan agar sebuah negara mencapai adil, makmur dan sejahtera atau baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

Tujuh formula tersebut telah terbukti membuat nabi Muhammad Saw  dengan manis mengukir daun emas peradaban. Diikuti pula oleh para sahabat beliau yang kegemilangannya tetap terlihat  dan mengundang decak kagum hingga kini.

Akan tetapi pemimpin yang hebat selalu didukung oleh rakyat yang hebat pula. Karena sesungguhnya pemimpin adalah cerminan rakyatnya.

Suatu ketika Sayyidina Ali kw dihujat seseorang. “Wahai Ali, ketika kepemimpinan Islam dipegang Nabi Muhammad Saw, umat aman. Di saat khalifah dijabat Abu Bakkar al-Shiddiq, umat tentram. Di waktu Umar bin Khattab menjadi khalifah, umat sejahtera. Di kala Utsman bin Affan naik tahta tak ada kekacauan di mana-mana. Tapi ketika engkau berkuasa, di mana-mana terjadi huru hara dan pertumpahan darah.”

Ali tersenyum dan menjawab, “Apa yang engkau katakan benar. Ketika kepemimpinan Islam dipegang Nabi Muhammad Saw, umat aman, di saat khalifah dijabat Abu Bakkar al-Shiddiq, umat tentram, di waktu Umar bin Khattab menjadi khalifah, umat sejahtera, di kala Utsman bin Affan naik tahta tak ada kekacauan di mana-mana tapi ketika aku menjadi khalifah, di mana-mana terjadi huru hara dan pertumpahan darah. Engkau tahu apa sebabnya?”

“Itu karena pada saat mereka menjadi pemimpin, rakyatnya orang seperti saya. Sementara ketika saya menjadi khalifah, rakyat yang saya pimpin seperti Saudara!”

Wallahu a’lam.    

(Tulisan ini pernah dimuat di lamanriau.com pada 09 Oktober 2020)