Sabtu, 16 April 2011

Malin Bonsu karya griven h. putera


11

Laut Embun saat menjelang siang itu sedikit bergelombang akibat hembusan angin yang cukup deras menjura ke arah darat. Di langit, matahari mulai tipis terlindung awan hitam. Jauh di atas laut, beberapa ekor burung, serupa burung elang terbang menukik ke dalam gelombang. Tiada lama benar, mereka naik lagi, lalu terbang ke arah darat, ke atas kayu-kayan yang tumbuh di sepanjang tebing Laut Embun.
Malin Bonsu masuk ke dalam dendang. Setelah tali dibuka, dendang ia tolak ke tengah. Dendang panjang Putri Jailan itu pun merewang ke tangah laut.
Malin Bonsu tegak berdayung sendiri. Sekali dayung direngkuhnya, dua tiga pulau terlampau, bagai dikarang buih hilir, bagai diimak pulau datang, bagai dibilang pulau tinggal. Dayung anak orang alim bertuah besar. Dayung penuh kedorat[1].
Haluan dendang Malin Bonsu ditunda ombak yang besar, dan timbul tenggelam dilendan gelombang tinggi. Siang dan malam Malin Bonsu terkatung-katung di laut. Hujan dan panas tiada lagi punya beda. Mencium aroma laut yang selama ini cukup asing baginya telah menjadi sesuatu yang biasa. Kulitnya yang melempai putih karena selalu diperam dalam rumah godang kini telah berubah coklat. Rambut yang selalu ditata rapi kini terbiar tak beratur. Kumis dan jenggotnya tumbuh bagai semak liar di bibir hutan.  Di mana ia merasa penat di situlah ia berhenti, di mana hari dijilat petang di sana pula ia bermalam.
Setelah sebulan berlalu, banyak sudah kampong dan negeri yang telah dilalui dan disinggahi Malin Bonsu. Kini Malin Bonsu sudah berada di laut Simpang Empat.
Malin Bonsu sedang singgah  istirahat setelah sekian lama berlayar.
Malin Bonsu duduk makan sirih. Baru sekali sirih dikunyah, di kejauhan ia lihat sebuah dendang memudiki laut. Makin lama dilihat, makin jelas dan terang kalau perahu besar yang terkatung-katung di tengah laut itu menuju ke arahnya.
“Raja Hitam?”
Rasa tak sedap mulai menyelimuti Hati Malin Bonsu. Raja Hitam selalu dikenal sebagai pemuda yang selalu membuat kekacauan. Melihat roman Raja Hitam, Malin Bonsu merasa bakal terjadi sesuatu yang tak baik di belakang hari pada dirinya.
Sebagai anak Datuk Domiolah yang terkenal bijaksana, Malin Bonsu mencoba menghalau parasangka buruk itu jauh-jauh.
“Mana tuan Malin Bonsu hamba berhimbau. Kemanakah tujuan tuan ini?” raja Hitam bertanya setelah dendangnya merapat di samping Malin Bonsu.
“Mana Raja Hitam hamba berhimbau. Apakah kini tuan hendak pergi atau atau mau pulang?”
Raja Hitam terdiam sejenak. Pertanyaannya belum sempat dijawab, malah Malin Bonsu bertanya pula.
“Hamba mau pulang. Sudah tiga bulan lamanya hamba berlayar. Kini hamba hendak menuju kampung hamba lagi, Ranah Kunto Panalunan, Ranah Tanjung Siarang.”
Raja Hitam menghambur ke dalam dendang Malin Bonsu.
Malin Bonsu menyorongkan tepak sirihnya yang berisi sirih, pinang dan gambir. Tak lama kemudian, sambil tertawa terbahak-bahak, Raja Hitam pun menyorongkan tepak sirih pula.
Malin Bonsu terkejut bukan main. Raja Hitam mengeluarkan tepak berisi paku, pecahan kaca.
Apa maksudnya? Tanya hati Malin Bonsu. Kini perasaan Malin Bonsu makin tak sedap.
Kini Malin Bonsu pergi berjalan. Selama kau berjalan, maka Putri Jailan, tunanganmu itu akan hamba ambil. Ha ha ha…
“Raja Hitam, karena tuan mau menghadap balik, sedangkan hamba baru mau pergi. Sekarang beginilah, hamba mau beramanat kepadamu. Kalau tuan mau, marilah kita balik adik-beradik. Kita mengaku berdunsanak. Setelah hamba pergi nanti, tolong tengok dan lihat Kota Lembacang Pandak, Ranah Kunto Panalian. Tolong dengarkan pula kabar tunangan hamba, Putri Jailan. Sekarang kita sudah sama tahu, dunia kini banyak orang tawan-tawanan.”



[1] Kekuatan magis

Malin Bonsu karya griven h. putera


12

“Mana Malin Bonsu hamba berhimbau. Insya olah baiklah itu. Supaya kukuh kita berdunsanak, perlulah kita buat tanda. Menurutmu, apa tanda kita berdunsanak itu kiranya?”
Malin Bonsu terlihat berpikir.
Entah berapa lama kemudian. “Mana kamu Raja Hitam. Ini tanda kita pulang-dunsanak,” kata Malin Bonsu kemudian sambil menyerahkan sebilah keris kepada Raja Hitam.
Ketika Raja Hitam menerima keris Malin Bonsu, dalam hati ia tertawa sambil berkata. “Hmm keris ini ‘kan membunuh tuannya. Akan hamba ambil tunanganmu. Dasar bodoh!”
 “Mana kamu Malin Bonsu. Kamu sudah menyerahkan tanda. Untuk itu, terima pula keris hamba ini. Inilah tanda kita adik-beradik. Tanda kita berpulang-bersaudara,” kata Raja Hitam kemudian tersenyum. Senyum penuh tujuan tak baik. Senyum mawar yang menyimpan selaksa duri tembaga.
Malin Bonsu makin tak betah berlama-lama lagi. Ia lihat jelas kalau senyum Raja Hitam hanya senyum penuh dengan kepalasuan. Malin sudah tak nyaman berada di dekat Raja Hitam. Pengakuannya pulang-dunsanak hanya sebuah taktik supaya Raja Hitam berpikir seribu kali untuk menghinatinya. Tapi apakah taktik Malin Bonsu itu berhasil?
Setelah menyelipkan keris Raja Hitam di pinggang, Malin Bonsu pun berkata, “Mana kamu Raja Hitam, karena hari sudah bersesar ‘kan tinggi juga. Kita pun sudah lama di sini. Sudah pula berpulang-berdunsanak. Dan kamu pun sudah mau balik, sedangkan hamba baru mau pergi. Untuk itu hamba segera undur diri. Perjalanan hamba masih jauh.”
Laut Simpang Empat siang itu tenang. Riaknya hanya sedikit mengombang ambingkan dendang.
Sebelum berkayuh. “Raja Hitam. Peganglah amanat hamba tadi.”
“Mana kamu Malin Bonsu. Tentang tunanganmu itu tak akan hamba sia-siakan. Kita ini berseadat-semalu. Tak mungkin kerja jahat hamba lakukan.”
Raja Hitam masuk ke dalam dendangnya. Malin Bonsu pun membuka tali dendang. Perlahan tapi pasti, dendang Malin Bonsu terus membelah lautan. Makin lama makin kencang, makin kencang. Kian lama, dendang Putri Jailan itu melaju, menrjang ombak dan gelombang bagai ikan lulung terkejut.
Raja Hitam tak langsung pulang ke Ranah  Kunto Panalunan, Ranah Tanjung Siarang; kampung halamannya. Lelaki yang bertubuh hitam dan berkelakuan hitam itu terus menuju Kota Lembacang Pandak; kediaman Putri Jailan. Ada sesuatu yang mesti ia lakukan di Kota Lembacang Pandak. Ya, sesuatu yang akan membuat ia senang dan bahagia tapi melukai orang lain. Menghianati Malin Bonsu.
***

Di Kota Lembacang Pandak
Oleh karena sudah lama mengarungi Laut Simpang Empat, kini Raja Hitam sudah tiba di Ranah Kota Lembacang Pandak. Setelah dendang ia tambatkan di pangkal kemuning jantan. Raja Hitam pun berdiri di kuanda dondang. Anak Raja Tua dari Ranah Kunto Panalunan menimang Bedil Jopun, memeriksa meriam kebesaran kerajaan Ranah Tanjung Siarang. Entah berapa lama kemudian bedil kebesaran kerajaan itu ia letuskan.
Di Rumah godang, Putri Jailan, Datuk Tunggal Dagang dan Omin Guntingan terkejut bukan main mendengar suara meriam itu. Begitu pula seluruh hamba rakyat Kota Lembacang Pandak. 
Sofiulah tobatlah alim. Siapa pula yang telah datang? Raja darimana yang telah tiba, sultan di mana pula yang sudah datang?” Tanya mereka dalam hati.
“Anak hamba Bujang Selamat. Pergilah segera ke jamban panjang. Raja dari mana yang telah tiba agaknya? Sultan dari mana pula yang telah datang ke negeri kita ini kiranya?”
Hati Putri Jailan dan seisi rumah godang  sudah terasa tidak nyaman. Waswas menyelimuti seketika.
Bujang Selamat berlari bagai tak cukup tanah menuju jamban panjang. Bujang selamat alias pelayan istana ini terkenal memiliki sifat terpuji; belum disuruh sudah datang, belum ditegah sudah berhenti.
Bujang Selamat terus berlari kencang menuju jamban panjang. Tak ia hiraukan orang-orang yang keheranan di kiri kanannya.
Dari jauh, di pangkal kemuning jantan, Bujang Selamat melihat di bawahnya terumbang  dendang panjang. Raja Hitam terlihat duduk terpegun di haluan.
“Raja Hitam?”
Bujang Selamat makin mendekat.
“Raja Hitam? Dari mana, hendak ke mana, dan apa pula maksudmu datang kemari? Siapa pula yang ingin kau jalang di sini? Siapa pula yang kamu cari kiranya?” Tanya Bujang Selamat berjujai-jujai tak sabar dengan bahasa yang tidak tersusun sama sekali, setelah berdiri tak sampai tiga depa dari dendang Raja Hitam.




Malin Bonsu karya griven h. putera


13

“Hoi Lamat, bersopanlah sedikit! Hamba ini baru datang dari laut luas. Kalau tak salah, sudah empat bulan hamba berlayar. Masuk bulan kelima barulah sampai ke mari.  Saking pentingnya urusan yang hamba bawa ini, hamba tak singgah dulu di kampung hamba karena ada pesan yang teramat penting dari Malin Bonsu mau hamba beritakan kepada Putri Jailan dan kepada Pak Bonsu Tunggal Dagang, Mak Bonsu Omin Guntingan, Datuk Domiolah serta Datuk Lanang Bisai.“
Raja Hitam berkata keras dengan suara melengking. Ia merasa terselip nada kurang senang Bujang Selamat kepadanya.
Mulut Bujang Selamat seketika ternganga mendengar berita itu. Pesan Malin?
“Lamat! Itulah sebabnya hamba datang kemari. Tahu?” mata Raja Hitam tampak menonjol. Jelas sekali, pembalut mata hitamnya itu agak berwarna kuning. Mata putih itu sungguh tidak putih lagi.
Bujang Selamat masih ternganga. Ia tak menyimak kata-kata Raja Hitam yang lain.  Pesan Malin? Pesan apa? Kata hatinya.
“Tolong sampaikan kepada Datuk Tunggal Dagang kalau hamba sudah berada di jamban panjang.”
Seolah baru tersadar, Bujang Selamat pun berkata.
“Kalau begitu katamu, kenapa kau tak naik saja ke darat? Kenapa tak langsung saja ke rumah godang menyampaikan pesan itu? Kenapa perlu hamba pula yang mesti menyampaikannya?”
Darah di sekujur tubuh Raja Hitam sontak naik ke ubun-ubun. Sungguh lancang orang Kota Lembacang Pandak ini. Sungguh tak beradab kepada Raja! Awas kau! Tunggu masanya nanti. Tunggu masanya aku menjadi penguasa di sini. Hmm…
“Hei, Lamat. Tak usahlah kau banyak cakap lagi. Sampaikan kepada Datuk Tunggal Dagang, hamba sebentar lagi akan ke rumah godang.
Kalau bukan teringat akan Putri Jailan, sudah tentu pesuruh negeri Kota Lembacang Pandak itu dibunuhnya, paling kurang akan dihajarnya sampai berkumur darah. Siapa yang tak tahu tabiat Raja Hitam? Lelaki yang kemana-mana hanya membawa laku ayam jantan. Hidup hanya mencari lawan, dan pernah tak pernah ada dalam kamus hidupnya mencari teman.
Sayang sekali ini lain. Sungguh lain. Ia tak mau pertemuan pertamanya dengan Putri Jailan, bunga tanah Perca itu bakal hancur berantakan gara-gara sikap Bujang Selamat. Raja Hitam mencoba bersabar walau sebetulnya hatinya sudah bagai dibakar. Seorang lamat bisa pula berkata demikian tak beradab di depannya, di depan putra mahkota Ranah Kunto Panalunan, Ranah Tanjung Siarang yang sebentar lagi akan pula menguasai Kota Lembacang Pandak, Ranah Kunto Panalian ini. Sungguh tak tahu diri.
Telunjuk Bujang Selamat terentit-entit, menggigil. Mulutnya ternganga-nganga. Seluruh badannya dibasahi keringat. Tak jelas keringat apa yang keluar menghujan  di sekujur tubuhnya. Entah karena berlari kencang sehabis berrtemu Raja Hitam di jamban panjang atau karena cemas terhadap Datuk Tunggal Dagang sekeluarga yang bakal kedatangan tamu tak diundang.
Nafasnya terlihat amat sesak setelah sampai di hadapan keluarga besar rumah godang. Usai bercakap dengan Raja Hitam tadi, ia berlari bagai tak cukup tanah menuju Datuk Tunggal Dagang dan Omin Guntingan yang telah menunggu di rumah godang.
“Anak hamba Bujang Selamat. Kenapa kamu seperti itu?”
“Hamba…hamba…”
“Bujang. Raja dari manakah yang datang? Sultan dari manakah yang telah tiba di jamban panjang kita?” Tanya Datuk Tunggal Dagang.
“Ya. Datang jahat atau datang baikkah dia?” Tanya Omin Guntingan terdengar cemas. Perempuan itu sudah tak sabar ingin mendengar laporan Bujang Selamat. Tapi Bujang Selamat belum bisa juga bicara. Ia kini bagai orang gagap.
“Lamat. Bertenanglah dulu.” Terdengar suara Datuk Tunggal Dagang menenangkan.
Entah berapa lama kemudian barulah Bujang Selamat bisa berbicara.
“Mak Bonsu dan Pak Bonsu. Orang yang datang itu adalah Ra ra ra…”
“Ra apa Bujang?”
“Ra… ra…..”
“Ra..ra ,..…”
“Ra..Ra..apa, Bujang?” suara Omin Guntingan agak menghentak tak sabar.
“Ra.. ra..”
























































Malin Bonsu karya griven h. putera


14

“Raja Hitam.”
“Raja Hitam?”
 “Ya.”
Bagai dentuman petir di tengah hari, Datuk Tunggal Dagang dan Omin Guntingan terperanjat. Datuk Tunggal Dagang mengalihkan pandang ke arah istrinya. Begitu pula Omin Guntingan, seolah dikomando, perempuan separuh baya itu pun menoleh ke arah Datuk Tunggal Dagang. Muka mereka sama-sama berubah. Siapa yang tak kenal Raja Hitam?
“Mau apa dia kemari?”
Kini Bujang Selamat sudah agak seperti biasa. Ia tak begitu tergagap-gagap lagi.
“Ia datang dari laut luas. Katanya, walaupun sudah lama berlayar, ia tak singgah di kampungnya lebih dahulu. Ia langsung kemari untuk menyampaikan pesan penting Pak Bonsu Malin kepada anje berdua dan Mak Bonsu Putri.”
“Pesan Malin?”
Datuk Tunggal Dagang dan Omin Guntingan saling pandang lagi. Risau makin menusuk perasaan mereka. Kini langit hati mereka mulai agak hitam. Bertambah lama, kian pekat segelap malam menjelang turun hujan.
***
Di jamban panjang
Raja Hitam duduk separuh mencangkung. Ia baru selesai makan sirih sekapur sambil berangin-angin di haluan dendang. Angin siang itu agak bertiup kuat hingga membuat dendang oleng kiri dan kanan. Raja Hitam menikmati suasana itu bagai duduk di ayunan. Ia membayangkan pertemuan pertamanya dengan Putri Jailan. Yang kata orang, dialah dara pujaan selitit Pulau Perca, selingkung Tanah Lembata kala itu.
Setelah merapikan tanjak yang tercengkit miring di kepalanya, dan merapikan celana yang kusal karena lama duduk di dalam dendang, ia pun berdiri membusungkan dada. Sambil menatap langit, keris panjang yang tadi terletak tak jauh dari cerana ia lenggangkan. Keris pendek Malin Bonsu tak lupa pula ia selipkan di pinggang. Ketika menyelipkan keris Malin Bonsu, ia pun tersenyum. Keris makan tuan.
Raja Hitam tak sabar lagi menuju rumah godang. Tak sabar lagi ingin melihat Putri Jailan. Ia ingin melihat secantik apakah Putri Datuk Tunggal Dagang itu.
Selejang berjalan, ia pun sampai di rumah godang. Kini lelaki muda yang selalu menyimpan seribu tipu daya itu sudah tercacak di jenjang lima.
“Pak Bonsu Tunggal Dagang dan Mak Bonsu Omin Guntingan. Apa anje berdua ada di rumah?” terdengar Raja Hitam bertanya dari pangkal halaman, tepatnya di bibir tangga yang menjulur ke pintu rumah godang.
Sejenak tak terdengar jawaban dari rumah godang.
Di rumah godang, ternyata Datuk Tunggal Dagang dan Omin Guntingan saling berpandangan setelah mendengar suara Raja Hitam.
“Pak Bonsu Tunggal Dagang dan Mak Bonsu Omin Guntingan. Apa anje berdua ada di rumah?” terdengar Raja Hitam bertanya lagi.
 “Hmm. Mana kamu Raja Hitam. Kami memang ada di rumah. Naiklah.” Suara Datuk Tunggal Dagang datar.
Raja Hitam langsung menaiki rumah godang. Sampai di dalam, ia cari tempat di tengah-tengah rumah. Dia duduk menyandar di tiang panjang.
Datuk Tunggal Dagang mengambil cerana lalu dibawanya ke hadapan Raja Hitam.
”Mana kamu Raja Hitam. Inilah sirih peminangan hamba. Kalau hamba boleh bertanya, dari manakah kamu ini? Apa maksudmu datang kemari dan apa pula benda yang hendak kamu cari di sini?”
“Mana Pak Bonsu hamba berhimbau. Sebelum pesan hamba sampaikan. Hamba bertanya dahulu tentang Putri Jailan. ..”
“Putri Jailan?” Omin Guntingan bergumam.
“Ya. Di manakah dia sekarang, Mak Bonsu?”
“Putri Jailan kini di anjung tinggi. Diasuh inang pengasuh. Mau apa kamu kepadanya?” jawab Omin Guntingan sangat ketus. Terdengar kalau Omin Guntingan tak sudi nama anak gadisnya disebut Raja Hitam.
Raja Hitam tersenyum. Kelihatan sekali gigi berkaratnya yang tidak teratur menyembul di antara dua bibirnya hitamnya yang tebal.
“Mana Pak Bonsu hamba berhimbau. Hamba ini datang dari merantau di laut luas. Sudah lima bulan lamanya dilendan dan dilamun ombak-gelombang. Sebelum sampai ke sini, hamba tak singgah dulu di Ranah Kunto Panalunan, Ranah Tanjung Siarang. Hamba langsung menuju kemari membawa amanat Malin Bonsu yang minta disampaikan kepada Putri Jailan dan anje berdua.”












Malin Bonsu karya griven h. putera


15

“Apa bunyi pesannya itu?” Tanya Datuk Tunggal Dagang tak sabar.
“Hamba dan Malin Bonsu berjumpa di Laut Simpang Empat. Kami bertemu di sana ketika hamba lihat dendang Malin Bonsu bertambat. Hamba pergi ke situ. Setelah hamba tengok ke dalam dendang, Malin Bonsu rupanya sedang berbaring, ia sakit merayu demam panjang. Lama hamba merawatnya di sana. Karena lamanya dia sakit, akhirnya ia pun berpesan dan beramanat supaya Putri Jailan dinikahkan dengan hamba…”
“Dinikahkan denganmu?” potong Omin Guntingan dan Datuk Tunggal Dagang hampir serentak.
“Ya, Pak Bonsu.”
“Hmm. Tak mungkin!”
“Jaga lidah busukmu itu Raja Hitam!” bentak Omin Guntingan.
“Adik Omin. Bersabarlah. Dengar dulu kabar dari Raja Hitam ini.”
“Mendengar kabar memongak[1]?” gerutu Omin Guntingan dengan muka cemberut.
Datuk Tunggal Dagang memandang tajam ke arah Omin Guntingan. Dari sorot tajam matanya, jelas benar sinar yang memancar dari mata elang tua itu menyiratkan perintah supaya Omin Guntingan segera diam. Omin Guntingan menunduk. Ia hapal benar akibat yang timbul dari menantang kilau sinar mata itu.
“Lanjutkan Raja Hitam.”
“Setelah cakap Malin habis, dia pun meninggal…”
“Meninggal?” Datuk Tunggal Dagang menggeleng. Sementara Omin Guntingan tampak mencibir. Sekali ini Datuk Tunggal Dagang tidak lagi melarang istrinya untuk bicara, dan merutuk-rutuk sendiri.
“Kini Malin Bonsu sudah mati di Laut Simpang Empat.”
Omin Guntingan makin menyunggingkan senyum mengejek.
“Pak Bonsu. Itulah amanatnya kepada hamba. Kalau mingkak[2] tidak percaya, inilah tanda dia berpesan.” Raja Hitam pun mencabut keris di pinggangnya lalu ia serahkan kepada Datuk Tunggal Dagang. “Ini keris pendek Malin Bonsu, diberikannya kepada hamba sebagai tanda dia suka hati. Tanda ia menyuruh hamba menikah dengan Putri Jailan.”
Mata Datuk Tunggal Dagang terbeliak ketika menerima senjata itu. Ia lihat keris tersebut baik-baik, mulai dari gagang hingga ke ujung.
Mulut Datuk Tunggal Dagang terkunci bagai burung bayan tergigit besi ketika menyadari bahwa keris ini memang keris Malin Bonsu. Omin Guntingan yang duduk bertindih paha dengan Datuk Tunggal Dagang pun begitu pula. Senyum cemeeh yang tadi tiada pernah berhenti tersungging di bibirnya hilang seketika. Muka Datuk Tunggal Dagang dan Omin Guntingan berubah pucat. Mereka termenung tak tentu arah. Dua suami istri itu tidak berbunyi-bunyi lagi. Awalnya, berita yang dibawa Raja Hitam ini mereka anggap bagai kicau burung murai saja, yang kebenarannya perlu diuji. Akan tetapi keris ini, keris pendek Malin Bonsu ini, bukankah itu jawabannya? Mereka tahu betul, itu adalah keris Malin Bonsu.
Rasanya tak mungkin Malin meninggal. Tak mungkin Malin sakit. Tak mungkin mereka berjumpa. Tapi setelah dilihat keris yang dibawa Raja Hitam, jelas sekali kalau itu memang keris Malin Bonsu.
Melihat keris itu, datang pula keyakinan mereka dalam hati. Akan tetapi?
Datuk Tunggal Dagang dan Omin Guntingan terhempas dihantam keraguan dan kecemasan.
Setelah sekian lama hening, Datuk Domiolah kembali menyerahkan keris itu kepada Raja Hitam.
“Mana kamu Raja Hitam. Kalau begitu pesan Malin kepadamu, baiklah. Semua itu sudah kami dengar. Sekarang baliklah kamu dulu. Tengoklah negerimu. Kami hendak menemui kanda Domiolah lebih dahulu di Ranah Kunto Panalian,” kata Datuk Tunggal Dagang.
“Mana Pak Bonsu dan Mak Bonsu hamba berhimbau. Kalau mingkak tidak percaya. Kalau hamba dianggap pemongak, bahwa ini bukan keris Malin Bonsu, hamba tahan disumpah.”
Lalu Raja Hitam menghimbau Putri Jailan.
“Mana kamu Putri Jailan. Turunlah segera dari anjung tinggi. Hamba membawa pesan dari Malin Bonsu yang kini sudah mati. Dia berpesan kepada hamba supaya segera menikahimu sebagai penggantinya.”
Mendengar Raja Hitam memanggil Putri Jailan, rasa muak kepada Raja Hitam kian bertambah-tambah di dada Datuk Tunggal Dagang. Apalagi Omin Guntingan. Mereka berharap sekali lelaki muda tak tahu budi bahasa ini berhambus secepatnya dari rumah mereka. Tapi mereka coba menahan gejolak di dada yang mau tumpah itu. Mereka sadar, kalau muda tidak muda lagi. Orang tua itu menahan ragam.
“Mana Kamu Raja Hitam. Kamu menyombong, kamu pemongak[3]. Tak mungkin liau[4] meninggal. Kalau meninggal, kenapa tak kamu bawa segala senjatanya, keris  panjang dan jalak jantan yang ia miliki? Yang kamu bawa baru sebilah keris pendek. Kamu ini pembohong. Tentang hamba?” Putri Jailan terdiam sejenak.
“Ciss, daripada berlaki kau, lebih baik aku mati.”
“Putri Jailan. Pikir-pikirlah dahulu. Hamba hanya menyampaikan pesan Malin Bonsu.”
“Mana kamu Raja Hitam. Tak guna kamu bertengkar dan berbantah. Eloklah kamu balik dahulu. Kami mau pergi ke Ranah Kunto Panalian, menemui kanda tua kami, Datuk Domiolah dan kanda Lanang Bisai,” kata Datuk Domiolah menggigil menahan marah yang hamper pecah.
“Pak Bonsu hamba berhimbau. Kalau itu kata anje baiklah, hamba akan balik dulu, hamba balik tak ‘kan lama.  Dua atau  tiga hari ini akan kemari lagi.”
Datuk Domiolah tak berbunyi. Wajahnya keruh. Hatinya muak sangat melihat anak Raja Tua itu. 
***






[1] bohong
[2] kalian
[3] pembohong
[4] beliau

Malin Bonsu karya griven h. putera


16

Datuk Tunggal Dagang dan istrinya Omin Guntingan baru saja merapat di Ranah Kunto Panalian.
Laut Embun petang itu bergelombang. Deburannya sesekali berderak menerpa beberapa buah dendang yang merapat di jamban panjang. Pun, akibat angin yang bertiup cukup kencang dari arah laut memaksa dendang yang digunakan Datuk Tunggal Dagang dan istrinya terantuk di salah-satu tiang jamban. Beberapa saat, dendang oleng ke kiri dan kanan. Hampir saja Omin Guntingan tercampak ke laut kalau saja ia tidak cepat-cepat duduk dan memegang kuat-kuat ubing dendang. Hampir saja petang itu ia mandi tanpa sengaja. Dan tentu saja, seribu kata yang berjura-jurai akan keluar dari omelan Omin Guntingan akan menghiasi petang itu.
Di sebelah hilir dan hulu jamban panjang Datuk Domiolah ini masih terlihat beberapa orang perempuan separuh baya dan gadis-gadis remaja asik mandi memakai kain basahan, kain sarung yang dikenakan sampai di ketiak. Mereka berkecimpung sambil menikmati cahaya matahari yang telah berwarna merah jingga, hampir seperti warna mata sembab anak perawan sehabis menangis. Matahari yang segera lelap ditimbun laut embun. Matahari yang selalu datang dengan ketulusan, kepolosan; menerangi semesta tanpa minta apa-apa, tanpa tujuan apa-apa, tanpa intrik apa-apa. Ya, tanpa membawa dan mengangkut segulung keinginan dan harapan akan sesuatu yang berarti dan bernilai bagi masa depan. Matahari yang tak pernah tenggelam dalam kubangan masa lampau dan tak cemas akan gunung kebahagiaan yang mungkin segera menjulang di masa dating. Matahari tak seperti manusia yang sebagian mereka hanya sibuk, bahkan mungkin terlampau sibuk membawa hati dan pikiran untuk sebuah tujuan bagi dirinya sendiri, ya, untuk menyenangkan diri pribadi, keluarga, kelompok, puak dan bangsanya sendiri walau terkadang harus melukai orang lain. Bahkan sampai-sampai malah melukai makhluk lain.
Ya, setidaknya seperti yang telah dilakukan Raja Hitam yang ingin merampas Putri Jailan dari Malin Bonsu, dari Datuk Tunggal Dagang sekeluarga, juga dari hamba rakyat Ranah Kunto Panalian, Kota Lembacang Pandak. Dan matahari juga tak seperti Datuk Tunggal Dagang dan istrinya yang datang di saat petang membayang senja ini. Mereka datang dengan wajah teramat kusut karena telah dipaksa susah hati oleh Raja Hitam yang akan membuat gaduh negeri Kunto Panalian, Kota Lembacang Pandak. Tak ada kata yang keluar dari mulut sepasang suami istri ini selama berlayar dari Kota Lembacang Pandak hingga sampai ke sini. Kening mereka selalu berkerut. Mereka hanya sibuk dilarutkan oleh kecemasan demi kecemasan, kekhawatiran demi kekhawatiran akan nasib Putri Jailan. Anak perempuan mereka yang akan dipersunting oleh Raja Hitam. Sibuk memikirkan nasib mereka dan nasib negeri besar Kota Lembacang Pandak, Ranah Kunto Panalian di masa depan.
Beberapa hari terakhir ini, terutama sesudah bertemu Raja Hitam tempo hari, mereka tak dapat lagi berpikir lain. Mereka susah tidur. Dalam tempurung kepala mereka yang sangat besar, yang sebenarnya melebihi luas dan besarnya langit dan bumi itu hanya ada Putri Jailan, Malin Bonsu dan wajah buruk Raja Hitam yang bertimbun, bersesak-sesak. Sungguh ternyata harapan terkadang membuat orang tidak lagi merdeka, tidak lagi dapat melihat bentangan langit yang gagah dan putih berseri, tak dapat lagi menikmati indah dan eloknya petang di laut di kala waktu menghampiri senja sambil menyaksikan sekumpulan burung bersuara gaduh bersiut bunyi yang terbang dari lautan ke darat, ke balik hutan yang semula hijau dan perlahan telah berangsur gelap.  
Datuk Tunggal Dagang menyuruh Bujang Selamat cepat-cepat mengikat tali dendang. Ia ingin selekas mungkin menemui Datuk Domiolah dan Datuk Lanang Bisai di rumah godang. Ia ingin secepatnya membagi resah dan gelisah yang kini sudah mulai penuh sesak, berjejal-jejal, tumpat-padat di kepala dan dadanya. Ia berharap rasa khawatir dan cemas ini sedikit tawar setelah bertemu Datuk Domiolah dan Datuk Lanang Bisai.    



Malin Bonsu karya griven h. putera


17

Omin Guntingan dan Datuk Tunggal Dagang berjalan tergesa-gesa menuju rumah godang. Di mata Omin Guntingan dan Tunggal Dagang, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka seolah hanya pajangan patung yang tercengang-cengan memperhatikan mereka.
Melihat kedatangan Omin Guntingan dan Datuk Tunggal Dagang, darah Datuk Domiolah dan Datuk Lanang Bisai berdesir. Tergamang darah di dada mereka. Selarut selama ini, adik perempuan mereka, Omin Guntingan dan Datuk  Tunggal Dagang sudah lama sekali tak datang ke rumah godang Ranah Kunto Panalian walaupun sesunguhnya Kota Lembacang Pandak dan Ranah Kunto Panalian adalah negeri kembar, di mana pemimpin yang menyelesaikan nan kusut dan menjernihkan yang keruh di Kota Lembacang Pandak adalah Datuk Tunggal Dagang, adik ipar mereka, sedangkan di Ranah Kunto Panalian adalah Datuk Domiolah sendiri yang dibantu Datuk Lanang Bisai.
“Apa gerangan yang terjadi?” Tanya Datuk Domiolah dan Datuk Lanang Bisai dalam hati berdebar-debar.
“Mana adik Omin Guntingan serta adik Tunggal Dagang hamba berhimbau. Hamba pandang kedatangan kalian ini ada hajat penting yang mau disampaikan. Apa yang telah terjadi Kota Lembacang Pandak? Apakah ada ando[1] dapat malu atau ada ranjau kita yang sudah lapuk atau sudah golo[2] pula negeri kita nan godang?” Tanya Datuk Domiolah setelah Omin Guntingan dan Datuk Tunggal Dagang duduk di depannya.
Setelah memperbaiki duduk, sambil berurai airmata, Omin Guntingan pun menumpahkan segala resah dan gelabah yang telah menghimpit mereka selama beberapa hari ini.
“Wahai Kanda Tua dan Kanda Tengah hamba berhimbau. Tak ando yang dapat malu, tak ada pula ranjau yang lapuk, dan tak ada pula golo dondang di laut Kota Lembacang Pandak seperti yang kanda risaukan itu. Adapun hajat kedatangan kami ini adalah menyampaikan pesan Raja Hitam yang baru pulang dari Laut Simpang Empat.”
“Pesan Raja Hitam? Apa hubungannya dengan kita?” gumam Datuk Domiolah dan Datuk Lanang Bisai hampir serempak.
“Kata Raja Hitam, ia kemarin telah bertemu dengan anak kita Malin Bonsu di Laut itu. Menurut cerita Raja Hitam kepada kami berdua, saat ia bertemu Malin Bonsu, anak kita itu sedang sakit merayu demam panjang. Konon, Malin menderita penyakit itu telah begitu lama. Selama Malin Bonsu sakit, menurut pengakuan Raja Hitam, dialah yang telah mengurusnya. Sebagai tanda terima kasih, Malin memberikan ini kepada Raja Hitam…” Omin Guntingan berpaling ke samping, ke arah Datuk Tunggal Dagang yang duduk di sebelahnya. Tanpa disuruh Datuk Tunggal Dagang lalu mengeluarkan sesuatu yang tergulung kain dari dalam penyimpan barang, semacam tas sandang yang terbuat dari daun mengkuang pandan yang dianyam demikian rapi. Omin Guntingan mengambil benda tersebut lalu menyerahkannya kepada Datuk Domiolah.
“Ini keris panjang Malin Bonsu yang dititipkan kepada Raja Hitam. Dan…” Omin Guntingan terdiam sesaat. Datuk Domiolah dan Datuk Lanang Bisai tampak tak sabar mendengar kelanjutan cerita Omin Guntingan. Ia tak mempedulikan benda tergulung kain yang baru saja diterimanya tersebut. Matanya hanya bulat, tak berkedip sedikitpun kepada Omin Guntingan.
“Dan apa?”
Kini perasaan mereka mulai tak karuan. Langit di hati Datuk Domiolah dan Datuk Lanang Bisai telah mulai diliputi awan hitam, segelap warna malam yang perlahan-lahan telah menyungkup Ranah Kunto Panalian.
“Ketika Malin Bonsu hendak meninggal..”


[1] janda
[2] rusak