Selasa, 28 Oktober 2014
Sepertiga Malam Terakhir: Cerpen yang Indah, Dalam, dan Berperisa
Griven H. Putera[1]
Awal al-Kalam
“Sepertiga Malam Terakhir”
merupakan cerpen Sungging Raga, nama baru yang saya kenal dalam dunia sastra
Indonesia. Dimuat di Media Indonesia
21 September 2014. Cerpen ini bertema penggusuran. Walau sudah banyak cerpen
memuat tema ini, namun cerpen realis ini amat berbeda dari fiksi-fiksi
sebelumnya. Ia begitu sedap dibaca, begitu dalam dan besar laung pesannya.
Dengan alur lurus dan
bahasa sederhana tapi indah, cerpen ini mudah dicerna siapa saja. Kisah yang
menggugah ini seperti diniatkan sebagai media dakwah bi al-risalah (dakwah melalui tulisan) tapi tak terkesan menggurui
dan sok agamis.
Cerita ini dimulai
dengan pembukaan yang lembut tapi menggugat. Di sepertiga malam terakhir itu, Dirminto masih duduk di belakang
rumahnya. Ia sedang termenung memandangi langit. “Benarkah Tuhan turun di
saat-saat begini?”
Tokoh utamanya adalah
Dirminto, sang ayah yang telah hampir putus asa karena di dunia ini seolah tak
ada tempat bagi orang dhaif sepertinya. Dan Tuhan seperti telah pergi dari
dunia ini sehingga kekuasaan yang jahat tak pernah bisa dikalahkan. Yang eksis
di dunia kini seolah hanya ketidakadilan dan kejahatan. Yang berkuasa di bumi
hari ini seolah setan, iblis dan jin jahat yang beraga manusia.
Matan al-Kisah
Pada hari penggusuran,
Dirminto yang kehilangan harapan hijrah tanpa tujuan, meninggalkan rumahnya yang
telah ditempati selama sepuluh tahun. Di tengah jalan ia dicegat sesama warga,
dan mencercanya tanpa ampun sebagai pengecut. Dirminto tak peduli cemoohan
warga, ia bawa istrinya dan kedua anaknya, yaitu Nalea berumur tujuh tahun dan Manisha empat tahun. Ia yakin
bahwa segala proses penggusuran selalu akan berakhir dengan tragis dan
menyakitkan. Dan pihak tergusur tetap berada di pihak yang kalah. Jadi untuk
apa melawan? Lebih baik pergi dan selamatkan diri serta anak istri. Ia tak
ingin kedua anaknya yang masih kecil, yang semua dilihatnya kini akan menjadi
dirinya suatu hari kelak; jiwa yang putih, polos dan lugu rusak karena pristiwa
tragis-memilukan seperti perubuhan rumah yang diiringi tangis histeris warga,
ibu-ibu pingsan, anak-anak menangis di pelukan, dan berbagai peristiwa yang
mengganggu jiwa anak-anak tersebut.
Di tengah jalan tanpa
tujuan, saat istrinya sedang membeli nasi goreng, Dirminto bertemu seseorang,
dan sempat berdialog. Pada akhirnya seseorang asing tersebut menyuruh Dirminto
berdoa lagi pada Tuhan. Dirminto yang kehilangan harapan menjawab.
“Untuk
apa?” tanya Dirminto.
“Berdoalah.
Kalau anda merasa dianiaya, Anda bisa berdoa apa saja untuk mereka. Itu pun
kalau Anda mau.”
Dirminto
seperti ingin tertawa. Akhirnya ia benar-benar tertawa. Tidak ada gunanya.
Tuhan sudah lama tidak menolong kami atau membalas perbuatan mereka, seharusnya
keadaan tidak seperti sekarang ini.”
“Jangan
begitu. Jika Anda tak percaya lagi kepada Tuhan, lalu kepada siapa lagi Anda
mengharapkan pertolongan?”
Di sepertiga malam
terakhir, ketika Dirminto dan keluarganya sedang leka tidur di puncak bukit, di
atas reremputan yang hanya beralas tikar, kota yang ditinggalkannya terbakar. Dirminto
sekeluarga selamat dari amukan api. Dirminto terkejut, dan ia lebih terkejut lagi
karena Nalea, anaknya yang berumur sepuluh tahun sedang menangis dan mengangkat
kedua tangan mungilnya ke langit. Dan Dirminto pun sadar kalau lantunan doa
dari mulut mungil Nalea telah didengar Tuhan. Dan Tuhan ternyata tak pernah
diam melihat kejahatan dan ketidakadilan di dunia ini. Tuhan tak pernah buta
dan tuli. Tuhan tak pernah sembunyi. Cuma sebagian orang kurang sabar menunggu
datangnya uluran tangan-Nya.
Natijat al-Risalah
“Sepertiga Malam
Terakhir” merupakan kisah pendek yang amat baik, bermakna, indah, dan dalam. Kalaulah
karya seni itu harus memuat kedalaman (dignity),
bernilai (value), indah (beauty) dan berperisa maka cerpen ini
menurut saya memiliki semua hal tersebut. Dengan bahasa yang sederhana, pendek,
dalam, membawa pesan moral, indah dan memiliki perisa tersebut, maka hemat
saya, cerpen ini memang menjadi media dakwah bi al-risalah. Sebuah cerpen yang mangkus menjadi media hiburan
sekaligus pengajaran. Cerpen yang tak banyak dijumpai di media hari ini karena
kebanyakan cerpen kini hanya seperti beraneh-aneh saja tapi nihil perisa. Bagi
guru bahasa Indonesia di sekolah, mungkin mengapresiasi cerpen ini bagus bagi
murid-muridnya. Dan cerpen ini elok nian dijadikan model menulis cerpen ideal
bagi siswa, apalagi di tengah bangsa Indonesia yang kini semakin kehilangan
kesadaran moral. Selamat buat Sungging
Raga.
(Pernah dimuat di Riau Pos, Ahad, 26 Oktober 2014)
Griven H. Putera[1]
Senin, 20 Oktober 2014
Dialahkan Sang Sapurba
Novel Sang Sapurba dimulai dengan suasana di rumah Datuk Bandar. Malam itu Wak Kadih hendak membaca Koba Sang Sapurba. Cuacana kurang bersahabat.
Sang Sapurba adalah orang asing yang dirajakan di tanah Melayu (bisa dibaca: Riau) karena orang Melayu kebanyakan lebih percaya pada kehebatan orang asing ketimbang orang kampungnya sendiri.
Hal itu ditunjukkan Demang Lebar Daun yang mengangkat Sang Sapurba sebagai raja.
Dalam novel yang berjudul Dikalahkan Sang Sapurba ini, Ediruslan menyamakan Demang Lebar Daun dengan Datuk Bandar Mahato (Wali Desa).
Pada awalnya novel ini bercerita mengenai percintaan antara Aisyah (Melayu) dan Ahmad (Jawa Trans). Namun cinta ini tampaknya kandas karena Aris anak Haji Dahaman melamar Aisyah. Aisyah tak berdaya.
Pada bagian kesembilan baru dimulai tentang Tri Gondo pengusaha yang hendak membuka usaha di Mahato. Tri Gondo dekat dengan Pak Suto, penguasa Riau kala itu.
Tri Gondo punya staf humas orang Riau sendiri bernama Darmawan yang kebetulan berteman dengan Aris, anak Haji Dahaman tunangan Aisyah. Darmawan dan Aris berteman ketika mereka sama-sama merantau ke Malaysia dahulunya.
Tri Gondo amat bernafsu membuka kebun sawit di Riau. Dan lahan yang cukup menurut peta Tri Gondo ada di Mahato. Melalui Aris, Darmawan menghubungi Datuk Bandar. Aris rupanya keponakan Datuk Bandar yang dahulunya secara diam-diam telah ditunangkan dengan Rohani anak Datuk Bandar. Tapi setelah pulang dari Malaysia, Aris malah ditunangkan orangtuanya dengan Aisyah. Keluarga Datuk Bandar kecewa sangat dalam hati (mereka diam-diam menyimpan dendam).
Ketika Aris mendatangi Datuk Bandar dan menceritakan keinginan Tri Gondo, Datuk Bandar senang. Kebahagiannya itu disebabkan, pertama ia akan semakin kaya, kedua ia dapat kembali mengambil Aris dari Aisyah anak Orang kaya Gemang. (upaya membalas dendam).
Datuk Bandar dan Aris pun menjadi kaki tangan Tri Gondo untuk mendirikan perkebunan sawit di Mahato.
Di Mahato sendiri terjadi pro dan kontra antara yang mau dan tak mau menyerahkan lahan kepada Tri Gondo. Yang tak mau menyerahkan lahan kepada pihak Tri Gondo itu termasuk Orang Kaya Gemang; ayah Aisyah.
Akhirnya Datuk Bandar dan Aris bekerja keras meloby masyarakat dan tokoh adat tapi tak berhasil. 600 KK prsyaratan yang ditargetkan Tri Gondo hanya terpenuhi 400 KK. Karena Datuk Bandar dan Aris tak berhasil membujuk lahan masyarakat yang tak mau ikut, akhirnya Tri Gondo membuat keputusan untuk menambah lahan sendiri dengan cara memababat kebun getah masyarakat.
Datuk Bandar dan Aris panik akibat laporan masyarakat. Lalu terjadilah pertentangan antara pekeja Tri Gondo dengan masyarakat Mahato. Camat pun turun tangan.
Sepulang dari lahan yang dikelola Tri Gondo, karena kesal masyarakat Mahato membabat bibit sawit yang baru ditanam perusahaan Tri Gondo.
Mendengar kabar tak menyenangkan itu, Tri Gondo mengamuk dan mengerahkan pekerjanya mengejar masyarakat. Lalu terjadi perkelahian hebat. Setelah terjadi sekian lama, camat dan polisi berhasil mengamankan perkelahian itu tapi tiba-tiba saja sebagian rumah penduduk terbakar malam itu. Rupanya termasuk juga rumah Orang Kaya Gemang; rumah Aisyah. Dan Aisyah akhirnya meninggal dunia bersama beberapa penduduk yang lain.
Usai tragedy Mahato tersebut, Orang Kaya Gemang meninggalkan kampung Mahato.
Rupanya Aris menikah dengan Rohani; anak pamannya yang merupakan Datuk Bandar tersebut.
Sehabis kejadian Mahato tersebut, Tri Gondo tetap beroperasi di kampung tersebut. Kebun masyarakat yang dibabat tidak mendapat ganti rugi kecuali Datuk Bandar dan Aris yang masing-masing mendapat 10 hektar. Sebagian orang kampung ingin pula menutut ganti rugi kepada Tri Gondo. Mereka mengajak Orang Kaya Gemang. Tapi ayah Aisyah tersebut tak bersedia.
Cerita ini ditutup dengan suasana di rumah Orang Kaya Gemang sehabis salat Isya. Lelaki yang telah kehilangan anak gadisnya tersebut tiba-tiba ingat suasana kebakaran di Mahato tempo hari. Ia tiba-tiba yakin ucapan pekerja Tri Gondo yang mengatakan kalau mereka bukanlah pembakar rumah Orang Kaya Gemang dan lain-lain. Orang Kaya Gemang makin yakin ucapan para pekerja itu tidak berbohong. Ia kini sadar dan berkeyakinan kalau yang membakar rumahnya adalah Datuk Bandar, disebabkan, pertama karena ingin merebut Aris dari Aisyah. Kedua, karena ia (Orang Kaya Gemang) dan 200 KK penduduk yang lain tidak bersedia menyerahkan lahan mereka kepada Tri Gondo.
Novel setebal 172 halaman tersebut ditutup Ediruslan dengan: Sekarang dia percaya bahwa mandor itu berkata benar. Apakah tidak mungkin kebakaran itu, terutama rumah dan anak gadisnya, dilakukan oleh datuk Bandar bersama pengikutnya agar impian ‘pinang pulang ke tampuk, sirih pulang ke gagangnya’ seperti yang dikatakan penduduk Mahato itu menjadi kenyataan. Dan semuanya sudah pulang. Tak hanya Aris kembali ke Rohani, tapi juga Aisyah kembali ke Khaliknya.
Hanya saja bedanya, yang pertama menghapus arang di kening, sementara yang kedua menjadi tumbal keserakahan, ambisi dan harga diri.
“Astaghfirullahal ‘azim., ampunilah dosa-dosa kami ya Allah,” ucap Orang Kaya Gemang dalam hati sembari bersujud ke sajadahnya yang sudah tua. (ghp)
(Pernah dimuat di Koran Riau pada 2014)
Oleh Griven H. Putera
Menengok Penyalai
Tahukah tuan di mana Penyalai? Kalau tuan pernah
pergi ke sana tentulah menjawabnya dengan fasih tentang seluk beluk negeri yang
saya tanyakan itu. Mungkin tentang Pulau Mendul, gobak sagu, kebun kelapa, buah
tematu, kue bangkit, negeri berpantai, cendol penyalai, joget tanjung selukup,
Datuk Temakul dan lain sebagainya.
Tulisan ini tidak hendak menjelaskan tentang
negeri di ujung batang Kampar itu dengan lengkap-pepat. Tapi sebagai anak
negeri yang iba hati pada tanah airnya, tampaknya ada sesuatu yang hendak
dilakukan untuk kampung yang masih menyimpan rasa dan resa bahasa Indonesia
yang lemah gemalai di negeri itu, dan menurut salah-satu riwayat, konon induk
bahasa Indonesia yang dipakai sekarang diambil dari penuturan masyarakat di
salah-satu parit (kampung) yang tumbuh di Pulau Mendul tersebut pada masa
dahulunya.
Secara geografis, negeri ini berbatasan langsung
dengan Provinsi Kepulauan Riau. Selain itu juga dekat dengan negara
Singapura. Kini bangunan fisiknya, bila dibandingkan dengan Tanjung Batu,
Kundur, Kepulauan Riau saja, negeri ini cukup tertinggal jauh. Di Pulau Mendul
ini belum dimasuki mobil, belum ada hotel berbintang, Bank, ATM, dan banyak
lagi yang belum tersedia. Jika orang sini memerlukan semua fasilitas itu,
mereka terpaksa berangkat naik speedboat ke Tanjung Batu yang hanya
makan waktu sekitar duapuluh lima menit saja. Hal ini juga dilakukan oleh
sebagian eksekutor dan legislator Pelalawan bila mereka bertugas di sini.
Mereka bermalam di Tanjung Batu Kundur karena penginapan sini baru setakat
kelas melati.
Oleh karena letaknya berada di sekitaran wilayah
perairan Selat Melaka, tentulah negeri ini sesekali mendapat jelingan dan
tumpuan mata dari negeri dan negara tetangga tersebut. Sebagai bangsa yang
memiliki sejarah gemilang di masa lampau, sudah sepatutnya Kabupaten Pelalawan
ingin dipandang gagah dan sasa di mata masyarakat sekitar Selat Melaka karena
bagaimana pun, Kuala Kampar merupakan pintu gerbang Pelalawan dari mata dunia
(Selat Melaka). Selain itu lagi, dari segi sejarah, kalau tidak menyimpan
sesuatu yang unik dan misteri, kenapa pula Sultan Mahmud Syah dari tanah
Semenanjung Malaya memilih jalur ini untuk bertapak di Pekantua? Kenapa tidak
memudiki kuala Indragiri atau Sungai Jantan, Siak, lalu mencari negeri untuk
membangun istana sayap?
Melihat kondisi kini, pembangunan sarana dan
prasarana infrastruktur mesti dilengkapi lagi. Keinginan Pemerintah Kabupaten
Pelalawan untuk menjadikan Kuala Kampar sebagai kawasan zona ekonomi ekslusiv
sungguh tepat, patut didukung dan digelorakan oleh semua kalangan.
Selain itu, potensi pariwisatanya pun perlu
dikembangkan dan dibuat peta kerja secepatnya apalagi kawasan bono tidak begitu
jauh dari sini. Jika turis dari mancanegara hendak singgah di Teluk Meranti
tentulah lebih nyaman dan nikmat jika masuk dari jalur sini karena para turis
tentulah ingin juga duduk semalam di Singapura, di Malaka di Batam dan Kundur.
Pun, membangun lembaga pendidikan yang lengkap
dan sempurna seperti di Pangkalan Kerinci perlu digiatkan lagi di sini. Lembaga
pendidikan agama Islam lebih harus diperhatikan karena, pertama, jika
turis mengunjungi kawasan wisata bono tentulah bersentuhan langsung dengan
masyarakat Kuala Kampar. Galibnya, kedatangan para turis asing sedikit
banyaknya akan mempengaruhi prilaku masyarakat temapatan. Untuk itu, generasi
muda perlu pondasi agama (akhlak) yang baik dan kuat. Kedua, pemelihara
kesantunan dan keindahan nilai Melayu mutlak disampul oleh agama Islam.
Makanya, memajukan lembaga pendidikan agama di daerah ini tidak hanya
dibebankan kepada Kementerian Agama (Kemenag) saja tetapi juga kepada
Pemerintah Daerah. MTS Kuala Kampar hemat saya perlu mendapat perhatian khusus
dari Pemda Pelalawan.
Membangun dan memelihara kekayaan khazanah Melayu
di Penyalai atau Kecamatan Kuala Kampar merupakan sesuatu yang mustahak segera
dilakukan sesegera mungkin oleh semua sektor di Pelalawan karena negeri ini
merupakan warisan Tuhan yang amat berharga demi kejayaan Melayu dan kabupaten
Pelalawan di bentangan esok yang kian panjang.
(Pernah dimuat di Koran Riau 2014)
Oleh Griven H. Putera
Ramadan nan Damai
Sejumlah 30 orang pakar muslim di Indonesia
menulis dalam buku. Kebali ke Jati Diri. Sebut saja KH Aqil Siradj, Dawam
Rahardjo, Jalaluddin Rakhmat, Siti Musdah Mulia, Azyumardi Azra dan banyak
lagi. Mereka ini merupakan anak-anak kampung yang kini tinggal di ibu kota, dan
(mungkin) sekarang bisa pula disebut sebagai cendekiawan terkemuka Indonesia.
Buku ini intinya mengulas tentang kerinduan
mereka kepada suasana dan tradisi berpuasa Ramadan; bertarawih, memperingati
nuzulul Quran, beridulfitri dan beberapa tradisi yang berlaku sebelum dan
sesudah Ramadan di kampung halaman mereka masing-masing. Walaupun intinya
merupakan deskripsi tentang pengalaman indah dan uniknya berpuasa di tanah
kelahiran, akan tetapi, sambil lalu mereka juga terkadang memercikkan ide-ide,
mengkritisi dan memuji suatu tradisi yang bersangkut-kait dengan memuliakan
Ramadan serta menghubungkannya dengan kehidupan beragama yang dipandang kaku
dan jumud. Siti Musdah Mulia misalnya menulis; …umumnya semua ibadah yang kami
lakukan itu hanya membangun ketaatan individual, tidak banyak memberi efek pada
pembentukan kesalehan sosial. Akibatnya, tujuan akhir agama, yakni memanusiakan
manusia tidak banyak terwujud. Mengapa ini ini terjadi? Menurut hemat saya,
karena umat Islam lebih banyak diajarkan tentang ibadah mahdhah (ritual
bersifat formal), berupa salat, puasa, zakat dan haji. Itu pun sekedar aspek
ritual yang mengedepankan unsur legal dan formalnya.
Kiai Aqil Siradj menulis pula; “Siapakah yang
baik perkataannya daripada orang-orang yang berseru kepada Allah dan yang
beramal saleh, lalu berujar, ‘saya ini termasuk muslim,” [QS 37: 33]. Ayat
tersebut menunjukkan formalitas Islam hanyalah syiar-syiar keagamaan yang kualifikasinya
berada di pengujung ayat. Sementara itu, yang diprioritaskan adalah berseru
kepada Allah dan beramal saleh. Seruan Allah tersebut sangat beralasan. Jika
formalitas Islam ditingkatkan pada prioritas pertama, hal ini tentu sangat
berbahaya. Dari sinilah orang-orang munafik (hipokrit) atau penghianat agama
biasanya muncul. Sikap hipokrit seringkali lahir dari sikap mendahulukan unsur
legal formal agama daripada kualifikasi amal saleh dan akhlak
mulia.
Jalaluddin Rakhmat dalam tulisan berjudul “Puasa
dalam Proses Penyempurnaan Diri” pun menyebutkan;… bagi saya, menjaga
silaturrahim itu jauh lebih penting daripada mempertahankan paham fiqh saya
yang sanga subjektif……..dalam konteks keislaman saya sekarang ini, Islam
Madani, maka mempersoalkan tradisi Ramadan menurut saya sudah tidak relevan
lagi. Apa pun tradisinya, bagi saya tidak menjadi masalah, yang penting dapat
menumbuhkan spirit-spirit kemanusiaan dan kedamaian sebagaimana diajarkan oleh
Rasulullah Saw. melalui Alquran dan Sunnahnya.
Sedang Sinta Nuriyah Wahid menulis;.. maksud dari
‘la’allakum tattaqun’ dalam Surat Al-baqarah183 sehubungan dengan
kewajiban puasa adalah menjaga moralitas dan etika serta hubungan dengan
Tuhan dan sesama manusia. Dalam bingkai moralitas ini, terkandung nilai-nilai
kesabaran , kejujuran, keterbukaan, keadilan, kesetaraan, kebersamaan,
kasih-sayang, toleransi dan nilai-nilai luhur lainnya.
Dari beramadan di kampung halaman, mereka
tampaknya membawa isu bersama, yaitu Islam damai. Islam yang mengutamakan amal
saleh dalam kehidupan ketimbang Islam pada tataran legalitas formal.
Membaca buku ini jelas sekali tampak, bahwa di
tangan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam budaya suku bangsa,
pelaksanaan ibadah Ramadan sungguh indah dan mempesona. Untuk ini, Moch. Nur
Ichwan, PhD benar dalam tanggapannya di kulit belakang buku ini, bahwa “Tradisi
seputar Ramadan dan mudik lebaran yang tak hilang digempur ortodoksi dan
modrernisasi, sebagaimana terefleksikan dalam buku ini, menunjukkan bahwa
ekspresi teologis dan kultural Islam di negeri ini adalah indah seperti
bunga-bunga di taman: harum dan warna-warni—bukan apak dan hitam putih. Semoga
juga menginspirasi dunia sosial dan politik kita.”
(Pernah dimuat di Koran Riau 2014)
Oleh Griven H. Putera
Ramadan dan Melayu
Ramadan merupakan bulan yang amat menggembirakan
hati orang Melayu. Dalam sebelas bulan sebelumnya, orang-orang Melayu dahulunya
mempersiapkan bekal dengan sungguh-sungguh demi menghadapi bulan Ramadan.
Selama bulan Ramadan kebanyakan mereka khusus melakukan ibadah saja. Mereka tak
lagi bekerja seperti pada bulan yang lain. Waktu dihabiskan hanya untuk
beribadah karena di samping pada bulan ini pahala ibadah dilipatgandakan,
mereka pun berharap agar selalu mendapat rahmat Allah SWT. serta memperoleh
ampunan dari segala perbuatan, perkataan dan sikap yang salah selama ini.
Mereka ingin bahagia ketika suatu saat nanti Allah SWT. menjemputnya melalui
Izrail. Mereka ingin menjadi hamba yang kelak dipanggil Allah SWT. dengan
himbauan, “Wahai diri yang tenang. Pulanglah ke haribaan Tuhanmu dalam keadaan
ridla dan diridlai. Jadilah hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku.”
Beberapa hari sebelum bulan Syakban berakhir,
mereka pun berziarah ke makam orangtua dan handai taulan. Ritual ini
dimaksudkan supaya melunakkan hati. Selain itu juga untuk mengingat mati karena
Rasulullah SAW. juga menyatakan bahwa salah-satu orang dipandang paling baik
adalah yang selalu mengingat mati.
Pada petang terakhir bulan Syakban, mereka
melaksanakan mandi tobat dalam sebutan Mandi Berlimau atau Petang Megang, lalu
silaturrahim ke rumah keluarga dan sanak tetangga. Saling bermaaf-maafan.
Mensucikan diri zahir dan batin karena akan memasuki bulan suci.
Mereka puasa bukan saja berpuasa dengan niat
untuk menahan diri dari makan dan minum, berhubungan intim suami istri dan
hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari,
orang Melayu juga melakukan puasa lebih jelimat lagi, yaitu berniat menahan
diri dari berkata berlebihan, bergunjing dan laku sifat tercela lainnya. Mereka
melakukan puasa sufistik. Sehingga berkembang dan familiar terdengar dalam
sebagian masyarakat Melayu bahwa puasa itu punya adab batin.
Ketika memasuki pertengahan Ramadan, mereka pun
berlomba-lomba memperingati turunnya Alquran melalui perlombaan membaca
Alquran. Lomba mulai antar parit, dusun hingga antar kampung.
Pada malam 27 Ramadan sebagian mereka menyalakan
lampu colok, menyalakan sajadah (obor yang terbuat dari tempurung
kelapa). Maksud api itu adalah simbol pencerahan karena diperkirakan pada saat
seperti itulah munculnya lailah al- qadar (malam kemuliaan atau malam
pencerahan) seperti yang tertera dalam surat Al-Qadr, bahwa malam itu malaikat
akan turun ke bumi membawa keselamatan dan kesejahteraan hingga semburat fajar
timbul di langit timur.
Kaum ibu pada siang harinya, selain berpuasa,
mereka pun menyempatkan diri membuat kue-mue untuk malam takbiran dan pada hari
raya. Kue-mue tersebut bukan untuk pamer kekayaan dan hura-hura tapi bagaimana
bergembira dan mengungkapkan rasa bahagia setelah sukses menghadapi cobaan hawa
nafsu selama berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan dalam naungan kasih
silaturrahmi.
Usai idul fitri, mereka kembali merajut tali
silaturrahim dengan sanak keluarga dan tetangga di perkuburan sempena
menziarahi keluarga yang telah berpulang ke rahmatullah. Sayang kepada
kelauarga dan handai taulan yang masih hidup, maka saling salam-salaman dan
bermaafan. Teringat mereka yang telah meninggal dunia, ziarahi mereka sambil
berdoa dan membaca sepaling al-fatihah dan surah yasin secukupnya. Wallahua’lam.
(Pernah dimuat di Koran Riau 2014)
Oleh Griven H. Putera)
Langganan:
Postingan (Atom)

